Translate

Sabtu, 26 Desember 2015

Rosimar Arnis

Kami saling memperlihatkan name tag masing-masing saat berkenalan siang itu, suatu siang di awal Mei 2015. Membaca namanya yang tercetak di atas kartu berukuran 10 x 15 cm itu, saya langsung berseru, "Kamu orang Sumatera Barat?" Cepat-cepat ia menjawab, "Bukaaaan. Tapi nama Rosimar Arnis memang sering dipakai orang Padang." Dengan satu pertanyaan pemantik saja, ia mulai bercerita banyak hal tentang nama, keluarga, kampus dan bahkan masa kecilnya! Oci, begitu ia disapa, ternyata asyik juga diajak ngobrol, batin saya kala itu.

Rosimar Arnis yang akrab dipanggil Oci ini tak lain adalah salah satu teman di tempat saya bekerja sejak delapan bulan terakhir. Gurat wajahnya tegas, khas orang Sumatera. Namun, sepertinya ketegasan gurat wajahnya itu juga merupakan hasil dari beban hidup yang menurut saya cukup berat pernah ia alami. Dalam beberapa kesempatan ia pernah menceritakannya pada saya. Hingga suatu ketika, saya pernah meminta izin padanya, "Let me write your story, Ci".

"Baju SD yang aku pakai ini Mbak, baju bekas!", kenangnya sambil menunjukkan foto usang masa kecilnya. "Aku pengin banget sekolah, tapi orang tuaku gak punya uang cukup buat beli baju baru. Jadi, mereka membelikanku baju bekas", ia bercerita sambil tersenyum. Ada kegetiran tervisualisasi dari senyum itu.

"Aku, orang tua dan dua adikku hidup di sebuah rumah kontrakan di Palembang. Bagian depan rumah petak beratap seng itu dipakai orang tuaku untuk berjualan kebutuhan sehari-hari. Dari sanalah kami menyambung hidup. Meski hidup sederhana, kami sangat bahagia. Di ruang tengah, begitu kami menyebut satu-satunya ruang lapang di rumah itu, kami berkumpul; dari mengobrol, makan, mengerjakan PR, nonton TV hingga tidur. Itulah sumber kebahagiaan kami. Sampai-sampai, teman-temanku yang kaya sering main ke rumahku hanya sekedar mau duduk berkumpul bersama di sana."

"Ibuku termasuk orang yang sadar tentang pentingnya pendidikan, Mbak. Walaupun penghasilan kami pas-pasan, Ibu mengizinkanku mengikuti les beberapa mata pelajaran. Saat masuk SMA, bahkan aku diizinkan bersekolah di SMAN 2 Sekayu, salah satu sekolah terbaik di kabupaten yang letaknya 3 jam perjalanan dengan bus dari rumahku. Waktu itu aku ngekos dan orang tuaku membiayai semua itu."

"Salah satu impianku adalah bisa kuliah di universitas negeri. Aku belajar sungguh-sungguh untuk mempersiapkannya. Awalnya aku optimis bisa masuk universitas negeri karena di SMAku setiap tahun hampir bisa dipastikan 60% siswanya lolos seleksi perguruan tinggi negeri. Tapi mbak, ternyata aku gak lolos! Itu ujian berat bagiku dan tentu orang tuaku juga. Aku sampai berbulan-bulan gak bernafsu makan."

"Tapi aku tetep ingin kuliah. Aku sebenarnya lolos seleksi kelas ekstensi di Universitas Sriwijaya. Tapi, ekstensi kan mahal banget Mbak. Sedangkan waktu itu tabungan orang tuaku sebagian besar sudah dipakai untuk membeli rumah setahun sebelum aku lulus SMA. Ya sudah, aku akhirnya kuliah di Poltek swasta yang biasanya SPPnya masih cukup terjangkau." Saya mendengarkan cerita Oci baik-baik, sambil mencatatnya di dalam otak saya. 

"Pas kuliah, aku dapat beasiswa sih mbak. Tapi ya standar, PPA dan BBM. Itu pun ada gilirannya karena di kampus swasta seperti kami, beasiswa semacam itsangat terbatas kuotanya", Oci melanjutkan ceritanya, saya menyimak.

"Lulus kuliah, aku daftar di sebuah BUMN, sudah sampai tahap wawancara akhir yang menyisakan 5 kandidat. Semuanya dari universitas negeri dan aku satu-satunya dari kampus swasta. Salah satu pertanyaan di wawancara itu, aku ditanya apakah aku punya kenalan di perusahaan tersebut atau tidak. Aku menggeleng karena memang gak ada. Dan jawaban inilah yang kemungkinan membuatku gak diterima."

"Aku lalu ditawari untuk bekerja di kampus almamaterku. Aku terima saja, sambil mencari pekerjaan yang menjanjikan penghasilan yang lebih besar karena aku mau membiayai dua adikku. Adalah kesyukuran akhirnya aku bisa lolos seleksi di tempat kerja kita sekarang ini, Mbak."

"Dua adikku sebernarnya lolos perguruan tinggi negeri. Tapi mereka gak bisa dapat beasiswa semacam Bidik Misi karena selalu sudah gugur baru di tahap administrasi. Sebabnya sepele banget, Mbak. Foto rumah dan rekening listrik!

Rumah kami sekarang sudah lumayan bagus. Lantainya sudah keramik dan atapnya berplafon. Kalau difoto, jelas kelihatannya bagus. Kalau dibandingkan dengan anak-anak di kampung yang rumahnya dari kayu dan sederhana, jelas mereka yang akan lolos seleksi. Padahal sebenarnya mereka punya banyak uang dari hasil kebun karet mereka. Rekening listrik juga. Kami setiap bulan tagihan listriknya lebih dari Rp 400.000 karena ada 3 kulkas di rumah kami. Taukah para penyeleksi beasiswa itu kalau tiga kulkas itu adalah penyambung nyawa kami? Dengan kulkas itu Ibu mengumpulkan rupiah demi rupiah dari hasil penjualan es."

"Lalu aku katakan ke adik-adikku kalau Allah itu kasih rezeki bukan hanya dari jalan beasiswa. Kakak sekarang penghasilannya bagus, itu juga rezeki yang Allah berikan untuk kalian lewat perantara kakak", Oci menutup ceritanya.

Bagi saya, Oci adalah Ikal dalam versi lain. Kegigihannya mencari ilmu, kemampuannya menertawakan kegetiran adalah semacam inspirasi bagi anak-anak Indonesia yang rindu akan pendidikan di tengah keterbatasan yang menghimpit. Jika Oci bisa maju, maka anak-anak yang lain pun tentu bisa! 



Tidak ada komentar: