Translate

Minggu, 20 Desember 2015

Hadiah Sepeda

Rezeki itu sungguh hanya Allah yang mengatur. Dan hanya Dialah sebaik-baik Pengatur.

Tidak ada yang menyangka Rabu malam itu saya mendapat hadiah sepeda setelah menjawab pertanyaan dari ustad di sebuah acara pengajian rutin di sebuah masjid di Jakarta. Tentu bukan main saya senangnya. Saya membayangkan bisa bersepeda di hari Minggu ke Taman Suropati, taman yang tak terlalu jauh dari tempat tinggal saya, Salemba. Terlintas kembali keinginan saya yang sempat terpendam: bersepeda keliling Jakarta! 

Dua kali pagi hari setelah Rabu malam itu, saya selalu menyempatkan menyapukan pandangan saya ke tempat parkir kos untuk memastikan sepeda saya masih ada di sana. Sekejap menatap, senyum pun terkembang. Ternyata saya memang benar-benar punya sepeda!

Hari berikutnya, saya mulai berfikir lain. Saya terbiasa pulang dan pergi ke kantor dengan jalan kaki karena jarak kos saya dengan kantor memang cukup dekat, tak sampai 1 km. Ini berarti, sehari-hari saya tidak membutuhkan sepeda. Akhir pekan adalah waktu yang paling memungkinkan saya bisa memakai sepeda. Tapi, saya lebih sering menghabiskan akhir pekan untuk mengikuti beberapa majelis ilmu. Dari perhitungan itu, maka dapat dipastikan bahwa sepeda itu akan lebih sering teronggok di tempat parkir kos daripada terpakai. 

Kenapa sepeda ini tidak saya wakafkan pada orang yang lebih membutuhkan saja? Bukankah itu akan membawa manfaat yang lebih besar? Pertanyaan-pertanyaan itu menggelayut di fikiran saya sebagai self talk. 

Ya, anak itu. Sebut saja dia Hasan. Saat ini Hasan duduk di kelas V sebuah Madrasah Ibtidaiyah di kampung halaman saya. Anak kedua dari empat bersaudara ini sangat rajin bersekolah. Saat saya pulang ke rumah, beberapa kali saya melihat Hasan pulang sekolah dengan jalan kaki, padahal jarak rumahnya ke sekolah tak kurang dari 2 km. Apakah anak itu tidak memiliki sepeda?

Saya segera menelpon ibu untuk memastikan ini. Menurut penuturan ibu, Hasan punya sebuah sepeda kecil namun sepertinya sepeda itu sering rusak sehingga tidak bisa dipakai. Akhirnya saya dan ibu sepakat menghadiahkan sepeda itu pada Hasan. Semoga dengan sepeda baru Hasan bisa lebih semangat bersekolah.

Dengan kereta api saya mengirimkan sepeda itu. Setelah sepeda itu tiba di rumah saya, ibu segera mengundang Umi Hasan untuk mengambil sepeda yang baru saja mengalami perjalanan panjang dari Jakarta ke Jawa Tengah itu. 

HP saya berdering, ada nama ibu tertera di layar. Terdengar suara ibu di ujung sana, "Iki ndok, Umine Hasan arep ngomong." Lalu, suara pun berganti, "Halo Mbak, matur nuwun nggih Mbak", suaranya bergetar. Jeda, beberapa detik. Hanya sesenggukan yang terdengar, tak ada kata-kata. "Sampun dangu Hasan nyuwun ditumbaske sepeda Mbak. Tapi kula dereng gadhah arta. Niki alhamdulillah Allah malah maringi lewat perantara njenengan", Umi Hasan bertutur masih dengan suara yang bergetar.

Hati siapa yang tidak meleleh mengengar kata-kata seperti itu? Saya tidak menyangka bahwa sepeda yang bagi kita mungkin sepele, tapi bagi Hasan dan Umi Hasan ternyata merupakan sesuatu yang begitu berarti. Kita bisa saja dengan mudah membeli ini itu dengan harga yang tak murah. Tapi, di sisi lain penjuru bumi sana, bahkan ada orang-orang yang kesulitan untuk sekedar memenuhi kebutuhan pokoknya. 

Maka, jelas tak salah kalau Allah menyuruh kita untuk menghindari sifat kikir. Allah menyuruh kita untuk banyak menafkahkan harta yang kita miliki di jalan Allah. Jika kita membaca Al-Quran, hampir setiap empat atau lima lembar sekali kita bisa menemukan ayat tentang perintah Allah ini: zakat, infak, sedekah dan sejenisnya. 

Kita mungkin tidak akan bisa menyamai level Usman bin Affan atau Abdurrahman bin Auf dalam menginfakkan haranya di jalan Allah. Namun, semoga kita bisa menyontoh sifat mereka yang begitu dermawan itu. 

                                                                                         ***
Terima kasih untuk Rosi, Mbak Arta dan Mbak Desi yang telah menyemangati saya menjawab pertanyaan dari ustad sehingga saya mendapat hadiah sepeda. Terima kasih untuk Rida yang telah mengantar saya ke Stasiun Senen untuk memaketkan sepeda untuk Hasan itu.


Rida dan sepeda untuk Hasan


Tidak ada komentar: