Translate

Rabu, 25 November 2015

Hapsari

Dari 19 aksara yang menyusun namanya, ada satu kombinasi huruf yang membentuk satu kata dengan arti yang sangat bagus, "Sari" yang berarti bunga. Dalam keseharian ia tidak dipanggil "sari", tapi di tulisan ini izinkanlah aku menyebutnya "Sari".

Adakah di dunia ini orang yang tidak menyukai bunga? Barangkali hampir semua orang menyukai bunga. Pun orang yang alergi terhadap serbuk sari, bisa jadi mereka pada dasarnya tidak membenci bunga. Mungkin tersebab oleh alergi itulah mereka akhirnya tidak mau dekat-dekat dengan bunga tertentu.

Sebagaimana bunga pada umumnya, ia adalah sosok yang kehadirannya selalu menerbitkan keceriaan bagi orang-orang di sekitarnya. Ia ramah, murah senyum dan suka mengajak orang untuk bercanda. Setiap ia ada, suasana yang kaku pun bisa tercairkan. Namun, siapa sangka bahwa ia pernah mengalami kegetiran hidup yang begitu hebat di masa lalunya?

Saat Sari duduk di kelas 2 SMP, Allah memanggil ibundanya untuk berpulang ke haribaan-Nya. Ini membekaskan kesedihan yang luar biasa di masa belianya. Pasca itu, hari-harinya lebih banyak ia gunakan untuk belajar dan belajar. Wajahnya selalu terlihat murung dan kaku sehingga teman-temannya enggan bergaul dengannya. Ia semakin murung setelah ayahnya menikah lagi dengan wanita yang sifatnya sangat berbeda dengan almarhumah ibundanya. Ia merasa tidak nyaman berada di rumah. Sesekali terjadi pertengkaran kecil dengan ayahnya. Ini berlangsung terus hingga ia lulus dari SMA terbaik di kotanya.

Lulus SMA, ia diterima di sebuah universitas negeri favorit di Kota Pahlawan. Itu adalah titik balik kehidupan barunya. Tinggal jauh dari orang tua membuat ia menemukan kembali siapa dirinya. Perlahan ia kembali ceria. Semangat hidupnya kembali menyala. Skala pertemanannya pun semakin meluas. 

Ia lulus kuliah dengan predikat cummlaude. Ia lalu bekerja di sebuah perusahaan swasta bonafit di Surabaya. Namun, itu ternyata belum membuat puas ayahandanya. Sang ayah menginginkan putrinya ini bekerja di BUMN atau menjadi PNS. Berbagai rangkaian tes masuk BUMN dan CPNS ia coba. Pertama kali mencoba, gagal. Mencoba lagi, gagal di tahap sekian. Mencoba yang lain lagi, diminta untuk membayar uang pelicin sekian puluh juta, ia menolak. Mencoba yang lain lagi, gagal lagi. Demikian seterusnya entah hingga bilangan ke berapa.

Saat ia menghadapi kegagalan demi kegagalan itu, saat ia nyaris putus asa, datanglah seorang pria pintar dan baik hati melamarnya, mengajaknya untuk menikah. Ia bimbang. Satu sisi ia belum memenuhi keinginan keluarga besarnya untuk menjadi pegawai BUMN atau PNS, tapi di sisi lain ia tak mau menolak pria itu. Akhirnya, bismillah, ia mantap untuk berumah tangga. Untungnya, keluarga besarnya pun mengizinkan. Ia tinggalkan pekerjaannya di Surabaya kemudian menikah dan hijrah ke Ibukota, tempat tinggal suaminya.

Rupanya memang benar janji Allah bahwa Ia akan membukakan pintu-pintu rezeki bagi siapa yang berani menggenap. Beberapa bulan setelah mencicipi Ibukota, Sari diterima di sebuah universitas negeri untuk melanjutkan jenjang pendidikannya. Beberapa bulan berikutnya, ia lolos pada seleksi penerimaan CPNS di sebuah kantor pemerintahan di Jakarta. Ini adalah kebahagiaan yang luar biasa bagi Sari dan tentu saja juga bagi keluarga besarnya.

Saat ini Sari sudah dikaruniai seorang putra yang sangat sehat, cerdas dan tidak rewel. Sama seperti dirinya, putra sulungnya ini begitu murah senyum. Ibu mertuanya sangat bahagia dengan kelahiran cucu pertamanya ini. Terlebih saat beliau tau golongan darah cucunya itu, "Alhamdulillah golongan darahnya O, bisa agak slow nanti anaknya." Beliau berharap sang cucu bisa  mencairkan suasana keluarganya yang semuanya bergolongan darah A sejati: perfeksionis dan serius.

Sari terlihat sangat bahagia walaupun sebenarnya tetap ada kerikil-kericil kecil yang manghalau perjalanan hidupnya. Doaku untukmu, Sari, semoga kamu selalu bahagia dan membahagiakan orang-orang di sekitarmu. 


sumber gambar : pernikdunia.com

4 komentar:

Lia Wibyaninggar mengatakan...

Terharuuuuu T_T. Masya Allah....
Memang, logika manusia berbeda dengan logika-Nya ya, Mbak. Sudah banyak kisah di sekitarku jika menggenap memang membuka pintu-pintu rejeki. Namun, membahasakan hal yang belum kelihatan kepada orang tua memang masih susah. Ibuku ingin aku kerja dulu, settle dulu sama kerjaan, baru deh nikah. Padahal, I think I have no more time buat menunda-nunda, jika terlalu lama juga nggak baik. *malahcurhat

Metias Kurnia Dita mengatakan...

Setiap orang memang punya tantangan sendiri2 ketika akan menggenap. Semoga Allah mudahkan Lia untuk mengomunikasikan ini pada Ibu Lia ya... *sok bijak :-)

Lia Wibyaninggar mengatakan...

Iya, mbak. Aamiin. Semoga Mbak Dita juga dimudahkan-Nya. :)

Metias Kurnia Dita mengatakan...

Aamiin ya Rabb. Matur nuwun dek :-)