Translate

Minggu, 26 Juli 2015

Tentang "Surga yang Tak Dirindukan"

Lebaran tahun ini salah satu novel Asma Nadia kembali difilmkan, Surga yang Tak Dirindukan. Saya dan dua orang sahabat saya, Mari dan Tami --yang tergabung dalam sebuah geng bernama Geng Gemblung-- sengaja jauh-jauh pergi ke Solo untuk menonton film tersebut (maklumlah kota kami, Klaten, tidak memiliki gedung bioskop).

Sejak di meeting point, rumah Tami, kami sudah siap-siap membawa sebungkus tisu. "Ini buat persiapan kalau nanti nangis pas nonton film", begitu kata Tami. Saran Tami ini bukan tanpa alasan. Menurut cerita sanak saudara dan teman-teman yang sudah menonton film yang ber-setting di Jogja itu, banyak penonton yang menangis.  Apa iya sedramatis itu? Dalam suasana hati yang sarat rasa penasaran, kami mantap membeli tiket film yang berharga Rp 30.000/kursi itu. (Padahal, di website tertulis harganya Rp 25.000/kursi lho. Tentang perbedaan harga tiket ini, saya bela-belain tanya ke mbak cantik petugas penjualan tiket. Alhasil, raut wajah Mari berubah 180 derajat karena malu setengah mati melihat kelakuan saya :-p.)

Baiklah, kita tidak akan membahas jauh tentang harga tiket ini, langsung saja kita bahas tentang film besutan sutradara Kuntz Agus itu. Banyak orang menarik kesimpulan bahwa fokus film tersebut adalah tentang poligami. Akan tetapi, menurut saya bukan di sana fokusnya. Pesan utama yang saya ambil dari film tersebut adalah tentang seseorang yang tidak ingin cerita duka yang pernah ia alami terulang kembali pada orang lain.

Tokoh utama film tersebut adalah Prasetya (diperankan oleh Fedi Nuril). Pras, begitu ia disapa, mempunyai trauma kelam di masa lalu. Karena rumah tangga yang morat-marit, Ibu Pras bunuh diri saat Pras masih kanak-kanak. Sejak itu Pras hidup tanpa orang tua. Pras hidup di panti asuhan hingga ia dewasa. Merasa hidupnya selalu terbantu oleh uluran tangan orang-orang sekitar, Pras tumbuh menjadi seseorang yang sangat dermawan. Ia suka menolong orang lain, sekalipun orang yang belum ia kenal.

Pras menikah dengan seorang perempuan sholihat nan cerdas bernama Arini (diperankan oleh Laudya Cynthia Bella). Mereka tinggal di sebuah rumah mungil yang cantik di Yogyakarta. Pras bekerja sebagai arsitek di sebuah biro arsitek yang ia dirikan bersama dua orang temannya, sedangkan Arini adalah penulis cerita anak-anak. Rumah tangga mereka berjalan sangat bahagia dan menjadi lebih bahagia dengan dikaruniainya mereka seorang anak gadis yang cerdas.

Kebahagiaan itu pun terusik setelah Pras menolong Meirose (diperankan oleh Raline Shah). Meirose mempunyai latar belakang keluarga yang mirip dengan Pras. Orang tua Meirose bercerai. Sejak itu, Ibu Meirose gonta-ganti pasangan hingga pada suatu titik mengalami depresi dan akhirnya bunuh diri. Sepeninggalan ibunya, Meirose kemudian hidup bersama pembantunya. Kehidupan yang sangat keras itu membuat Meirose jauh dari Tuhan. Ia kemudian dihamili oleh seorang lelaki yang berjanji akan menikahinya namun rupanya itu hanya janji palsu. Dalam kondisi hamil besar itu Meirose mencoba untuk bunuh diri. Saat itulah Pras datang menolong.

Meirose kemudian melahirkan seorang anak lelaki. Meirose yang merasa tak sanggup membesarkan anak tersebut, kembali mencoba untuk bunuh diri. Pras sekuat tenaga mencegahnya. Meirose begitu frustasi dengan kehidupannya, apalagi saat itu ia memiliki seorang anak tanpa ayah. Meirose akhirnya selamat dari percobaan bunuh diri setelah Pras berjanji akan menikahi Meirose dan menemani Meirose merawat bayinya. Niat Pras sederhana, ia hanya tidak ingin apa yang ia alami sewaktu kecil terulang pada bayi Meirose. Maka, Pras akhirnya menikahi Meirose saat itu juga di rumah sakit.

Kehadiran Meirose inilah yang memicu prahara pada rumah tangga Pras dan Arini. Banyak cerita terjadi setelah itu. Banyak pula pesan yang Asma Nadia sampaikan melalui cerita-cerita itu. Dan sekali lagi, pesan yang sangat nyata saya tangkap adalah tentang keinginan seseorang--dalam hal ini adalah keinginan Pras-- agar kisah duka yang pernah ia alami jangan sampai terulang kembali pada orang lain.

Saya pikir jamak orang juga berkeinginan demikian. Mereka tidak ingin kisah menyakitkan mereka terulang pada orang lain. Sesederhana keinginan Pras, sesederhana keinginan saya. Saya merasakan betul rumitnya hidup sebagai anak yang orang tuanya bercerai dengan cara tidak baik-baik. Karena itu, saya tidak ingin apa yang saya alami ini terjadi pada anak-anak lain. Saya kemudian banyak menulis tentang ini dengan harapan banyak orang yang membaca tulisan saya dan kemudian kembali berfikir ulang jika mereka ingin bercerai. Saya pun berbicara di forum-forum yang memungkinkan saya bicara tentang itu.

Ayah dan bunda sekalian, jika kalian bercerai, maka pihak yang paling akan tersakiti adalah anak-anak. Berfikirlah ratusan atau bahkan ribuan kali jika niat untuk bercerai sempat menyala di hati ayah dan bunda sekalian. Pikirkanlah perasaan kami duhai ayah dan bunda. Mungkin sebagian kami hanya diam dan nampak baik-baik saja menghadapi kondisi yang demikian. Tapi percayalah, dalam hati kami tergores luka yang teramat perih rasanya. Dan mungkin, luka itu tidak akan pernah hilang bekasnya sampai ajal kami tiba.



6 komentar:

ANNISA NOVITA DEWI mengatakan...

Ditaa, I feel you

Metias Kurnia Dita mengatakan...

Viviiiii..... you know me so well <3

T @ R I mengatakan...

pengen nonton tp g berani krn takut mata bengkak keluar studio

T @ R I mengatakan...

pengen nonton tp g berani krn takut mata bengkak keluar studio

Fenny Ferawati mengatakan...

keinginann sederhana tapi menngakibatkan sesuatu yang kompleks ya

Monic Tere mengatakan...

yukk mampir ke website kita, ada banyak informasi tentang Smartphone hehe :)

DEMAK KENDAL SEMARANG UNGARAN