Translate

Senin, 06 April 2015

Memilah Langkah

Beberapa hari lalu saya membaca sebuah tulisan teman saya di blog pribadinya. Kali itu ia menulis dengan sangat dalam. Kata-katanya sangat menyentuh hati. Saat itu dia memang sedang menghadapi masalah yang cukup serius. Masalah itu kemudian ia tuangkan ke dalam tulisan yang sangat bernyawa. Saya kemudian mengirimkan pesan singkat padanya, "Orang kalau lagi tertekan emang bisa membuat karya yang keren ya! Hehe.." Lalu, teman saya itu pun menimpali, "Jadi, harus tertekan dulu ya?"

Saya kemudian teringat para tokoh-tokoh yang menghasilkan karya-karya hebat saat diri mereka berada dalam situasi sulit. Dari zaman penjajahan Belanda misalnya, kita mengenal sederet nama tokoh yang menorehkan karya-karya hebat dalam masa perjuangan melawan kolonialisme. Abdul Muis misalnya. Sebagai seorang wartawan, ia kerap kali menulis kritik yang tajam kepada pemeriatah Hindia Belanda melalui berbagai surat kabar masa itu. Ia juga berpidato ke daerah-daerah untuk mengkritik kebijakan pemerintah kolonial. Karena tindakan-tindakannya itu, Abdul Muis diasingkan ke daerah Garut, Jawa Barat. Dalam masa pengasingan tersebut ia justru bisa menghasilkan novel yang hingga saat ini masih diajarkan di bangku SMA yaitu Salah Asuhan.

Di zaman selanjutnya, kita mengenal Pramoedya Anantatoer. Ia berhasil membuat novel tetralogi Bumi Manusia yang dahsyat saat ia 14 tahun dibuang di Pulau Buru. Tetralogi tersebut kini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Karya-karyanya itu bahkan telah mengantarkannya sebagai satu-satunya warga negara Indonesia yang pernah masuk dalam daftar kandidat penerima nobel sastra.

Lalu, Asma Nadia, penulis puluhan novel Islami best seller. Siapa sangka jika ternyata ibu muda ini sejak usia remaja sudah sakit-sakitan hingga kini. Sakitnya pun bukan tergolong ringan. Gagar otak, lemah jantung dan tumor pernah dideritanya sehingga membuatnya keluar-masuk rumah sakit. Semua penyakit yang dideritanya itu memang melemahkan tubuhnya tapi tidak melemahkan pikiran dan jiwanya untuk terus berkarya. Selain menyandang gelar best seller, novel-novel kaya Asma Nadia sudah banyak yang diangkat ke layar lebar seperti Emak Ingin Naik Haji, Rumah Tanpa Jendela dan Asslamu'alaikum Beijing.

Itu adalah contoh orang-orang yang menghadapi kesulitan hidup dengan sikap postitif. Mereka tak larut dalam kesedihan yang menciutkan hati, mematikan cita-cita. Mereka justru menjadikan perasaan sakit, kecewa, tertekan mereka sebagai bahan bakar untuk menghasilkan karya yang bermanfaat untuk banyak orang.

Setiap orang pasti mengalami kesulitan dalam hidup. Macam-macamlah jenisnya. Ada dua pilihan setelahnya: menyerah dengan keadaan atau bangkit untuk terus berkarya. Selalu mudah untuk menyerah. Sebaliknya, ada saja hal-hal yang membuat sulit untuk bangkit. Jadi, mau memilih yang mana kamu, Dita?



2 komentar:

Lia Wibyaninggar mengatakan...

Banyak Mbak, penulis yang hidupnya sebenarnya tidak seindah kisah-kisah yang ditulisnya. Pipiet Senja, sastrawan berdarah sunda yang telah menghasilkan puluhan karya itu hingga kini masih mengidap thalasemia, ia juga dikasih cobaan berupa rumah tangga yang tidak harmonis, hingga akhirnya beliau bercerai dengan suaminya. Aku kemudian paham, novel2 yang ditulisnya dengan kedalaman hati adalah upaya mengobati lukanya sendiri--selain untuk membiayai pengobatannya.

Gol A Gong, yang aku bertemu dengan beliau tempo hari di IBF, tak kusangka beliau penulis yang hanya punya satu tangan! Shock. Bagaimana bisa? Seorang penulis kondang yang namanya kukenal sejak aku masih SMP, yang katanya sudah traveling kemana-mana, pendiri Rumah Dunia, seorang yang cacat fisik. Subhanallah. Namun, memang begitulah Allah menunjukkan kuasa-Nya ya, bagi orang2 yang berada dalam keterbatasan, namun pantang meratapi ketidakberdayaannya.

Ketiga, Nurul F. Huda. Penulis yang juga berasal dari kampus kita, FIB UGM. Kumpulan cerpennya yang beraroma "aktivis sekali" kukenal ketika masih SMP juga. Siapa sangka, ternyata beliau memiliki kelainan jantung semenjak kecil. Perjalanan hidupnya yang penuh liku dan getir baru kuketahui setelah beliau meninggal dari buku terakhir yang beliau tulis: "Hingga Detak Jantungku Berhenti".

Ah, orang2 itu memang menginspirasi. Seharusnya kita yang dikaruniai kesehatan dan fisik normal ini mampu berkarya lebih daripada mereka. :D

Metias Kurnia Dita mengatakan...

Huaaa... merinding bacanya, pengen nangis T_T. Mungkin perumpamaannya seperti gaya pegas ya,... Ia harus ditekan dulu sehingga bisa melenting tinggi. Semakin kuat tekanannya, semakin tinggi pula lentingannya.