Translate

Sabtu, 18 April 2015

Judul yang Klise: Bahagia Itu Sederhana

Sari, teman sekantor saya suatu ketika pernah berkata, "Gajian tuh kayak menstruasi ya Dit!". "Hah? Maksudnya?", saya mengernyitkan dahi karena mendengar perumpamaan yang anti-maistream itu. "Iya, maksudnya, seminggu udah habis!", jelas Sari. "Haha, bener juga sih kalau dipikir-pikir ya!"

Sebagai buruh kantoran yang sudah beranjak dewasa (baca:tua :-p), kebutuhan kami rasa-rasanya sudah semakin meningkat. Ada pos-pos kebutuhan di luar kebutuhan pribadi yang mesti dipenuhi. Dan tentu saja, ini menuntut diri untuk semakin panjang akal mengatur neraca keuangan agar tidak besar pasak daripada tiang. Tentang atur-mengatur uang ini, Tami, sahabat saya pernah berkata, "Aku lho Dit, duit ki nganti tak jereng-jereng siji-sji". (Aku lho Dit, uang sampai aku bentangkan satu persatu). 
Ilustrasi njereng-njereng duit.
Sumber gambar : http://marketeers.com/img/uploads/Media/FicfBQ_RUPIAH.jpg
Awalnya saya tidak paham dengan istilah yang Tami pakai itu dan malah berkomentar seperti ini, "Waaaah, uangmu banyak berarti ya Tam?" Lalu Tami menimpali, "Bukan gitu Dit! Maksudnya, setiap lembar uangku tuh udah ada pos yang menunggu buat diisi. Jadi, istilahnya sampai harus ku bentangkan satu per satu gitu!", jawab Tami dengan nada gemas. "Haha, berarti nasib kita masih sama Tam!", respos saya dengan nada bangga karena punya teman senasib sepenanggungan.

Walaupun masih berpenghasilan pas-pasan --dan sampai njereng-njereng duit--, saya tetap bersyukur karena selalu cukup, tidak sampai kekurangan.  Saya jadi teringat kata-kata Ust Sholihun ketika mengisi KRPH (Kajian Rutin Pagi Hari) di masjid Mardlyah Kampus UGM, "Kita sebaiknya selalu berdoa agar rezeki kita cukup. Cukup untuk naik haji, untuk berkurban, beli rumah, beli mobil dsb". Doa yang sangat bagus, kan? Mari kita ikuti doa seperti itu! :-)

Sekali lagi, walaupun saat ini masih demikian adanya, saya bersyukur karena dianugerahi niat dan kesempatan untuk bersedekah. Niat ini mulai terbit di hati saya karena pengaruh sahabat-sahabat saya yang sangat "gila" bersedekah. Mereka tak pernah menyuruh saya bersedekah. Saya melihat langsung dan kadang mendengar kegiatan sedekah mereka. Ini membuat hati saya terdorong untuk ikut bersedekah. Ternyata, dengan bersedekah --walaupun dengan nominal yang tidak seberapa--, entah kenapa saya menjadi merasa kaya. Selain itu, dengan bersedekah, saya sering mengalami keajaiban yang tidak terduga. (Cerita tentang keajaiban ini saya dan teman-teman saya tulis dalam blog tersendiri yang akan segera kami launch).

Saya tau betul manfaat sedekah. Akan tetapi, saya terkadang masih berat hati melakukannya. Setelah mendengar cerita tentang sedekah seorang teman misalnya, saya biasanya langsung terlecut untuk bersedekah, "Oke, besok pagi saya mau kasih uang sarapan pada petugas penyapu jalan!" Keesokan harinya, ketika perjalanan menuju tempat kerja dan bertemu petugas penyapu jalan, tiba-tiba niat sedekah mengendur, "Ah, nanti-nanti aja deh." Untungnya, beserta bisikan negatif itu, datang bisikan lain, "Kalau gak sekarang, nanti malah gak jadi lho! Kita gak tau apa nanti-nanti masih punya kesempatan buat sedekah!". Kalau sudah begini, saya cepat-cepat mengerem motor yang saya kendarai dan berhenti di dekat sasaran sedekah saya. Setelah itu, yang tersisa dalam hati saya hanya perasaan bahagia. Bahagia itu memang sederhana ya!

Menurut saya, bisa memiliki niat dan kesempatan untuk bersedekah itu adalah nikmat yang luar biasa. Tidak semua orang bisa sering-sering memperoleh nikmat semacam itu. Semoga Allah Sang Penggenggam hati selalu mengaruniakan nikmat itu kepada kita. 


2 komentar:

Tami Ahda Syahida mengatakan...

Baguuuus....semoga segera hengkang dari masalah ekonomi diri yak..kwkwkwkw

Metias Kurnia Dita mengatakan...

Haha... bahasamu Tam! Sajak memelas tenan..