Translate

Sabtu, 14 Maret 2015

Ujian Cinta

"Judul macam apa itu? Enggak banget deh! Bikin mual aja!"

Haha.. Mungkin ada yang berkomentar seperti itu setelah membaca judul tulisan ini. Atau mungkin ada yang semacam ini komentarnya, "sehat Dit?", atau "lagi kasmaran ya?" Okelah, setiap orang boleh berkomentar apapun. Tapi tunggu dulu, apa sebenarnya yang mau saya tulis? (memperbaiki cara duduk dan lanjut mengetik).

Begini critanya. Pagi ini saya masih terngiang-ngiang dengan cerita serial drama Jepang yang tadi malam saya tonton. Saya suka sekali dengan hampir semua dialog yang ada dalam drama tersebut. Jika ada kata-kata yang saya anggap bagus, saya menirukannya berkali-kali. Ini membuat saya menyadari bahwa saya sangat mencintai Bahasa Jepang.

Dulu, ketika masih kuliah, sering orang bertanya pada saya, "Kenapa memilih jurusan Bahasa Jepang?" Dan saya pun menjawab, "ya karena suka aja." Karena saya memang suka. Di telinga saya, bunyi Bahasa Jepang terdengar bersemangat. Artinya, mendengarkan saja saat Bahasa Jepang diucapkan (oleh orang Jepang) tanpa tau artinya pun, saya menangkap kesan semangat itu. Pun sebaliknya, saat suasana pembicaraan sedang sedih (terlihat dalam drama misalnya), kata-kata Bahasa Jepang terasa "dalam", menyentuh hati. Itu yang saya suka.

Beberapa semester awal, saya sangat menikmati belajar Bahasa Jepang. Namun, lama-lama saya mulai kesulitan terutama dalam menghafal huruf kanji. Kanji yang saya pelajari dan hafalkan sulit sekali masuk dalam long-term memory saya. Misal bulan ini sudah menghafal 50 kanji, bulan depan tambah 50 lagi, maka 50 yang awal itu terbang satu-persatu (baca:lupa ;-p). Lalu saya ulang lagi dari awal. Sudah ingat, tambah menghafal yang baru, yang lama lupa lagi. Begitu terus-menerus. Jatuh bangun saya belajar kanji. Ibarat yang berjuang adalah kaki, mungkin sudah penuh kaki saya ini dengan bekas luka akibat jatuh berkali-kali. (lebay :-p).

Bagi mahasiswa jurusan Bahasa Jepang, belajar kanji itu hukumnya fardhu 'ain. Ya iyalah, lha wong semua mata kuliah seperti tata bahasa, membaca, menulis, berbicara, semua materinya pakai huruf kanji. Kalau tidak menguasai banyak kanji, gimana bisa membaca soal ujian? Kalau soalnya saja tidak bisa membaca, gimana bisa menjawab? Nyaris putus asa saya, Ich bin verzweifelt! (Lah, malah ingat Bahasa Jerman. Hahaa)

Walaupun susahnya minta ampun, akhirnya saya lulus November 2011. FYI, saya lulusan tercepat di angkatan saya lho (se-jurusan maksudnya, bukan se-fakultas ya! hihii). Alhmadulillah lulus walaupun dengan nilai yang membuat alis sedikit mengerut karena tak melampui target. Tapi ya sudahlah, tak apa. Syukur sudah lulus.

Setelah lulus, saya sebenarnya diterima kerja di sebuah perusahaan manufaktur di Batam, sebagai penerjemah. Ini membuat hati saya bergolak. Siapkah saya kembali berhadapan dengan Bahasa Jepang? Bayangan ribuan huruf kanji tiba-tiba berputar ligat di sekitar kepala saya.

Sejak akhir tahun 2010 sebenarnya saya sudah berencana mendaftar menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar. Setahun kemudian, saat hari kelulusan tiba, pikiran saya rasanya seperti diaduk-aduk. Tetap mau mendaftar sebagai PM atau bekerja di sektor industri. Kalau menjadi PM, apa saya siap "dibuang sendirian" ke daerah pelosok? Ah, ternyata kehidupan pasca wisada itu lebih menantang ya?

Setelah melalui proses berfikir yang panjang, maka, atas nama cinta tanah air (lebay :-p), saya memilih menjadi PM dengan hati mantap. Saya menjalani proses rekrutmen selama 6 bulan bersama 8500 orang lainnya. Alhamdulillah saya lolos di semua tahap seleksi dan mendapat tiket untuk melenggang ke Jakarta, camp pelatihan (macam ikut audisi Indonesian Idol, haha). Setelah menjalani pelatihan selama 2 bulan, saya dan 70 teman lainnya diberangkatkan ke lokasi tugas masing-masing selama setahun.

Setahun berlalu secepat laju kereta Argo Bromo (apasih? haha). Apa yang harus saya lakukan setelah ini? Saya ingin kembali ke Bahasa Jepang. Setelah menunggu beberapa lama dan sempat bekerja di sektor selain Bahasa Jepang, masuklah saya bekerja di kantor yang sekarang, sebagai interpreter (penerjemah) . Saya girang bukan kepalang karena akhirnya saya bertemu kembali dengan yang saya cintai, Bahasa Jepang. :-)

Karena sudah lama tak digunakan, Bahasa Jepang saya seperti terpreteli satu per satu. Maka, saya pun kembali sungguh-sungguh belajar Bahasa Jepang. Dan ujian cinta pun kembali datang, bak hujan di bulan Februari, kadang turun begitu deras, kadang gerimis tipis namun lama.  

Dan ternyata benar kata teman-teman saya, menjadi interpreter Bahasa Jepang itu susyaaaah. Tiap kali harus menerjemahkan rapat, tangan terasa dingin dan lemas. Telinga harus terpasang maksimal untuk mendengar setiap pembicaraan orang yang akan diterjemahkan. Otak harus berfikir cepat mengkonversi rentetan kata-kata, dari Indonesia ke Jepang dan sebaliknya. Ibarat google translate lah. Tapi nyatanya, ini lebih rumit dari pada apa yang dilakukan oleh google translate. Mesin penerjemahan tersebut hanya dirancang untuk menerjemahkan perkata, tidak untuk menerjemahkan "maksud" dan "nuansa". Sedangkan apa yang dilakukan oleh seorang interpreter (penerjemah lisan) mencakup semua itu. Pertama-tama kami harus memahami kata-kata yang diungkapkan oleh si pembicara. Kemudian, otak menghubungkannya dengan berbagai informasi yang terkait dengan tema pembicaraan (misal sedang menerjemahkan divisi marketing, interpreter harus mengetahui informasi dan keadaan divisi tersebut). Jika "maksud" sudah ditangkap, baru bisa diterjemahkan dengan tepat.

Di bulan-bulan awal menjadi interpreter, setiap pagi saya selalu cemas sehingga membuat saya menggumamkan doa-doa sepanjang perjalanan ke kantor. Ketika akan menerjemahkan meeting, doa favorit saya adalah doa nabi Musa, Robis shrohli shodri wa ya shirli amri wah lul uqdatam mil lissani yah khohu khouli“ (Ya Tuhanku lapangkanlah dadaku, dan lancarkanlah lidahku serta mudahkanlah urusanku.) Bahkan, sekarang, setelah setahun lebih saya menjadi interpreter, doa itu masih terus saya rapal sebelum menerjemahkan rapat. Telapak tangan kadang masih terasa dingin karena gugup. Tapi sudah berkuranglah, dibandingkan dengan bulan-bulan awal dulu. 

Terlepas dari semua kesulitan menjadi interpreter, saya menikmati semua itu. Ya, karena saya suka pada Bahasa Jepang. Rasanya senang setiap mengobrol dengan atasan menggunakan Bahasa Jepang. (Saat mengobrol santai ya! Bukan saat rapat! haha)

Mungkin seperti itulah perjalanan cinta (baca: cinta yang universal). Seberapa besar cinta kita pada sesuatu, atau seseorang, selalu saja ada ujiannya. Jadi, jika kita siap mencintai, kita juga harus siap diuji ya! Hehe.


                                                                                                                     ***
Beberapa lama lagi saya akan pindah kerja di kantor pemerintahan yang menangani urusan sosial. Di sana mungkin Bahasa Jepang saya tidak akan terpakai. Sedikit berat, tapi tidak apa-apa karena saya pun sangat mencintai pekerjaan yang ada hubungannya dengan sosial. Minggu lalu, saat saya memberitahukan ini pada atasan saya, beliau berkata, "Wah sayang sekali Bahasa Jepang Dita yang sudah bagus itu tidak dipakai lagi." Saya tersandung, eh bukan ding, maksudnya tersanjung maksudnya, karena kemampuan Bahasa Jepang saya dipuji. Lalu saya menjawab, "nanti setiap akhir pekan saya akan mengajar Bahasa Indonesia pada orang Jepang. Jadi saya tetap bisa memakai Bahasa Jepang. Karena saya suka Bahasa Jepang". "Oh, kalau begitu, Dita menikah saja dengan orang Jepang", atasan saya menimpali dengan nada bercanda. Haha.



2 komentar:

rida mengatakan...

Tema kita samaaaa hahhahahahhaaa suka bahasa jepaaang <3

Metias Kurnia Dita mengatakan...

Hahaaa... iyaa.. dan suka itu baru kerasa banget kalau udah mau pisah yaaa!!