Translate

Rabu, 04 Maret 2015

Mari Kita Pergi ke Dapur dan Memasak Bersama

Awal bulan lalu Toko Buku Gramedia memberikan diskon 30% bagi setiap pembelian buku terbitan grup Gramedia. Namun, diskon ini hanya berlaku bagi pemegang kartu Gramedia atau pembelanjaan yang dibayar dengan kartu kredit dan kartu Flazz BCA. Ketentuan ini menerbitkan kecewa di hati saya. Pasalnya, saya tidak mempunyai baik kartu Gramedia maupun kartu kredit BCA. Tiba-tiba teman saya berkata, "pakai kartu flazz BCA yang biasa untuk naik Trans Jakarta itu bisa kok. Top up isinya bisa di mana aja, di gerai yang menyediakan layanan debit BCA. Di Gramedia juga bisa."

Aha! Sore itu, sepulang kerja, saya langsung mampir ke Gramedia Puri Indah Mall. Singkat cerita, terbelilah 6 buah buku yang sudah lama ingin sekali saya baca. Sambil menating plastik berisi barang belanjaan saya itu, menggembunglah hati saya sepanjang perjalanan pulang. (Dasar orang bermental diskonan, haha.)

Salah satu buku yang saya beli adalah Ranah 3 Warna, novel ke-2 dari Trilogi Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. Novel yang mengobarkan semangat man shabara zhafira ini selesai saya baca kemarin. Selesai membacanya, saya menjadi penasaran dengan kelanjutan kisah si Alif, tokoh utama dalam Trilogi tersebut. Di novel pertama A. Fuadi menceritakan tentang kehidupan Alif selama di Pondok Madani. Lalu di novel ke-2 penulis menceritakan kehidupan Alif semasa menjadi mahasiswa di Jurusan Hubungan Internasional di UNPAD dan keikutsertaannya dalam program pertukaran pemuda ke Kanada. Bagaimana nasib Alif setelah ini ya? Saya penasaran. 

Saya pun berselancar ke dunia maya mencari bocoran tentang kelanjutan kisah Alif di novel ke-3, Rantau 1 Muara. Pertama-tama, saya ketik nama Ahmad Fuadi, penulis Trilogi ini. Lalu muncullah profil penulis berdarah Minang ini di laman Wikipedia. Di pojok kanan atas muncul foto A. Fuadi dan identitas singkatnya. Di kolom pekerjaan tertulis: Pekerja Sosial, Novelis dan Wartawan. Pekerja Sosial? Maksudnya? Saya tergemap. 

Saya kemudian mengingat-ingat pertemuan saya dengan Abang yang satu ini. Dua kali pernah saya berada di forum yang mana beliau menjadi narasumber. Pertama, pada pertengahan 2012 yaitu saat Pelatihan Intensif Pengajar Muda Angkatan IV (PM IV). Saat itu beliau mengisi sesi "tokoh inspiratif". Setahun berselang, saat kami, PM IV, sudah kembali dari penugasan, diundanglah kami makan malam di rumah Pak Anies Baswedan. Saat itu datang pula Bang Ahmad Fuadi. Seusai makan malam, beliau berbagi cerita pada kami tentang pengalamannya meraih beberapa beasiswa luar negeri. Di akhir acara beliau sedikit bercerita tentang kegiatan beliau saat itu yaitu mengembangkan Komunitas Menara, komunitas yang bercita-cita ingin memajukan pendidikan anak bangsa yang kurang mampu secara ekonomi. Salah satu programnya adalah mendirikan 1000 PAUD untuk anak-anak di kawasan marginal. Oh, mungkin inilah maksud "pekerja sosial" pada kolom isian pekerjaan bang Fuadi.

Pekerja sosial, pekerja sosial. Frasa tersebut rasanya menjalar di syaraf otak saya. Sebangga itukah Bang Fuadi dengan profesinya sebagai pekerja sosial? Pertanyaan ini memaksa saya untuk berfikir lebih mendalam.

Lalu terlintaslah di kepala saya kata "relawan", kata yang mulai tersangkut cukup kuat di kepala saya sejak dituturkan oleh Pak Hikmat Hardono, Direktur Eksekutif Indonesia Mengajar. Kata "relawan" dan "pekerja sosial" sejatinya mempunyai makna yang hampir senada. Kata "relawan" saya kenal dari Pak Hikmat, sedangkan "pekerja sosial" dari Bang Fuadi. Saya sengaja menebalkan kalimat tersebut karena saya menyadari adanya relasi yang apik di sana. Ya, relasi antara orang-orang pintar dengan karya nyata mereka di ranah sosial.

Dan sepertinya relasi inilah yang coba terus ditumbuhkan oleh Gerakan Indonesia Mengajar. Sejak pelatihan intensif selama dua bulan sebelum ditugaskan ke daerah, Calon Pengajar Muda (CPM) dibekali berbagai materi pelatihan yang salah satunya adalah sesi "forum leadership". Tercatat sudah sejumlah nama seperti A. Fuadi, Ibu Tri Mumpuni, Ibu Tri Risma Harini, Bapak Ridwan Kamil dst, diundang dalam sesi tersebut. Harapannya, CPM bisa belajar dari tokoh-tokoh tersebut dalam menggerakkan masyarakat. Lalu, saat di penempatan, salah satu tugas PM adalah mendorong individu-individu lokal untuk berinisatif dan bergerak untuk mengembangkan daerahnya, khususnya di bidang pendidikan.

Tidak hanya itu, Indonesia Mengajar juga mengajak masyarakat umum maupun perusahaan swasta untuk ikut bergerak dalam proses perbaikan ini. Kenapa semua pihak perlu dilibatkan dalam proses ini? Karena sesungguhnya semua permasalahan ataupun kekurangan yang ada pada sektor pendidikan bangsa kita ini adalah tanggung jawab kita bersama. Kita sebaiknya tidak lagi melihat permasalahan itu sebagai outsider, pihak yang ada di luar masalah dan hanya berperan sebagai komentator. 

Jika ada anak yang putus sekolah misalnya, sebaiknya kita berhenti berkomentar, "Apa saja kerja pemerintah?" Sebaliknya, marilah kita berlatih untuk memberi respon semacam, "Apa yang bisa saya bantu?" Jika semakin banyak orang yang mau memposisikan diri sebagai bagian dari masalah dan berusaha untuk memperbaiki masalah itu, bukankah itu akan mempercepat kemajuan bangsa kita? 

Lamat-lamat saya teringat dengan kisah kegemilangan masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Kala itu, karena semua orang (termasuk Sang Khalifah) tergerak untuk memberi dan membantu, tak ada satupun orang yang mengaku miskin. Badan 'amil zakat sampai kesulitan menyalurkan zakat karena sudah tidak ada lagi penerima zakat. Tidak inginkah kita menjadi masyarakat yang demikian? Maukah kita melangkah bersama-sama untuk mencapai kegemilangan itu?

Jika kita katakan "ya", kemudian bertanya kita, "apa yang bisa saya bantu?". Tentu saja banyak. Salah satu alternatif jawabannya adalah bergabung dengan IURAN PUBLIK GERAKAN INDONESIA MENGAJAR. Kenapa IURAN? Karena, sekali lagi, kita memposisikan diri kita sebagai bagian dari masalah dan ingin memperbaiki masalah itu. Maka perlu kita tegaskan pula bahwa ini adalah IURAN, bukan SUMBANGAN! Kita mau IURAN karena kita merasakan "lapar" yang sama, lapar akan ilmu pengetahuan dan kemajuan. Untuk itulah, mari kita pergi ke dapur dan memasak bersama!

Selamat bergabung dengan #IuranPublik http://indonesiamengajar.org/donasi/ !


6 komentar:

Fikri Maulana mengatakan...

Baru mampir udah suka sama tulisannya :)

www.fikrimaulanaa.com

Metias Kurnia Dita mengatakan...

Terima kasih sudah mampir dan membaca :-)

Tami Ahda Syahida mengatakan...

Eaaalah...salah kaprah aku Dit...sory yo..wow..dua kata,kita memposisikan sebagai bagian dari masalah dan mencari solusi dari masalah tsb. Dan,pada akhirnya orang pintar itu akan menjadi relawan sosial..

thanks for sharing Dituuuul..

Metias Kurnia Dita mengatakan...

Sama-sama Tami... :-)

Morgan Debra mengatakan...

Hello Am Mrs, ANGELA TAYLOR Am pemberi pinjaman pinjaman yang sah dan dapat diandalkan memberikan pinjaman
pada syarat dan ketentuan yang jelas dan dimengerti pada tingkat bunga 2%. dari
$ 20.000 sampai $ 10,000000 USD, Euro dan Pounds Hanya. Saya memberikan Kredit Usaha,
Pinjaman Pribadi, Pinjaman Mahasiswa, Kredit Mobil Dan Pinjaman Untuk Bayar Off Bills. jika kamu
membutuhkan pinjaman apa yang harus Anda lakukan adalah untuk Anda untuk menghubungi saya secara langsung
di: angelataylorloanfirm@hotmail.com
Tuhan Memberkatimu.
Salam,
Mrs Angela taylor
Email: angelataylorloanfirm@hotmail.com


Catatan: Semua balasan harus kirim ke: angelataylorloanfirm@hotmail.com

Solusi cepat kaya mengatakan...

,,.,KISAH NYATA ,,,,,,,
Aslamu alaikum wr wb..Allahu Akbar, Allahu akbar, Allahu akbar
Bismillahirrahamaninrahim,,senang sekali saya bisa menulis dan berbagi kepada teman2 melalui room ini, sebelumnya dulu saya adalah seorang pengusaha dibidang property rumah tangga dan mencapai kesuksesan yang luar biasa, mobil rumah dan fasilitas lain sudah saya miliki, namun namanya cobaan saya sangat percaya kepada semua orang, hingga suaatu saat saya ditipu dengan teman saya sendiri dan membawa semua yng saya punya, akhirnya saya menaggung utang ke pelanggan saya totalnya 470 juta dan di bank totalnya 800 juta , saya stress dan hamper bunuh diri anak saya 2 orng masih sekolah di smp dan sma, istri saya pergi entah kemana dan meninggalkan saya dan anakanaknya ditengah tagihan utang yg menumpuk, demi makan sehari hari saya terpaksa jual nasi bungkus keliling dan kue, ditengah himpitan ekonomi seperti ini saya bertemu dengan seorang teman dan bercerita kepadanya, Alhamdulilah beliau memberikan saran kepada saya, dulu katanya dia juga seperti saya stelah bergabung dengan KI JAMBRONG hidupnya kembali sukses, awalnya saya ragu dan tidak percaya tapi selama satu minggu saya berpikir dan melihat langsung hasilnya, saya akhirnya bergabung dan menghubungi KI JAMBRONG di No 0853-1712-1219. Semua petunjuk AKI saya ikuti dan hanya 3 hari Astagfirullahallazim, Alhamdulilah Demi AllAH dan anak saya, akhirnya 5M yang saya minta benar benar ada di tangan saya, semua utang saya lunas dan sisanya buat modal usaha, kini saya kembali sukses terimaksih KI JAMBRONG saya tidak akan melupakan jasa AKI. JIKA TEMAN TEMAN BERMINAT, YAKIN DAN PERCAYA INSYA ALLAH, SAYA SUDAH BUKTIKAN DEMI ALLAH SILAHKAN HUB KI JAMBRONG DI 0853-1712-1219. (TANPA TUMBAL/AMAN).