Translate

Senin, 23 Februari 2015

Virus Itu Bernama Kebaikan



Terdengar suara kunci pintu diputar, terbukalah pintu itu dari luar dan muncullah Tami, teman sekontrakan saya. Ia tampak buru-buru masuk, menurunkan buku-buku kuliahnya di kamar kami. “Aku ngajar TPA dulu ya, Dit!”, ucapnya pada saya sambil bergegas keluar.

Beberapa kali sore, adegan terburu-buru Tami semacam itu saya saksikan. Sore itu, tetiba sebuah bisikan mengusik hati saya. “Tami keren sekali. Di tengah kesibukan kuliah dan organisasi, ia tak pernah absen mengajar TPA di masjid dekat kontrakan. Ia mengajar TPA dengan sukarela, tak mengharapkan imbalan materi. Sedangkan saya, setiap sore justru sibuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah dengan mengajar les privat.” Saya sempat berdalih, “Tami tidak perlu mencari uang karena orang tuanya memberinya uang saku setiap bulan, sedangkan saya tidak! Jadi, wajar kalau Tami mau mengajar TPA tanpa bayaran.”

Saya kemudian teringat nasihat guru SMA saya bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk banyak orang. Glek. Saya menelan ludah. Apa manfaat yang sudah saya berikan selama 19 tahun saya hidup? Nyaris tak ada!

Saya harus berbuat sesuatu! Ya, harus! Tapi apa yang bisa saya lakukan? Sejenak berfikir, kemudian muncullah beberapa opsi. Namun, mengajar TPA di desa saya adalah opsi yang sepertinya bisa lekas saya eksekusi. Karena jarak Yogyakarta dengan desa saya tak lebih dari 1,5 jam, setiap Jumat sore saya pulang ke rumah dan baru akan kembali ke Yogyakarta Senin pagi. Jadi, Sabtu dan Minggu bisa saya manfaatkan untuk mengajar TPA.

Beberapa tahun terakhir ini, tidak ada TPA di desa saya. Terakhir kali saya mengikuti TPA di masjid desa saya saat saya kelas V SD. Karena pengajar TPA kami mempunyai kesibukan baru, TPA tiba-tiba berhenti. Saya pun pindah ke TPA di desa lain. Di sana, TPA terorganisir dengan sangat rapih. Salah seorang dermawan di desa itu menyisihkan sebagian penghasilan bulanannya untuk menggaji para pengajar TPA.

Sejak saya kelas V SD hingga saya berada di tingkat 2 masa kuliah, tak ada aktivitas TPA di masjid desa saya. Inilah yang membuat saya ingin menghidupkan kembali TPA di masjid desa saya. Saya lantas menghubungi Mbak Iwin, tetangga saya yang baru saja pulang merantau dari Jakarta dan sekarang menetap di desa melanjutkan usaha bisnis keluarganya. “Tapi aku agak repot Dit. Nggak bisa rutin ngajarnya”, kata Mbak Iwin merespon ajakan saya untuk mengajar TPA. “Nggak apa-apa mbak. Kita ngajar TPA seminggu 3 kali aja. Rabu, Sabtu dan Minggu. Mbak Iwin nanti ngajar Rabu. Aku Sabtu dan Minggu. Tapi kalau Mbak Iwin ada waktu senggang Sabtu dan Minggu, mbak Iwin masuk juga ya! Hehe.” Gayung pun bersambut. Berjalanlah TPA  kami. Mula-mula siswanya hanya beberapa anak yang tinggal dekat dengan masjid. Lama-lama jumlahnya mencapai 30-an anak.

Beberapa bulan berjalan, saya ajak Dek Emy, tetangga kami juga,  untuk ikut mengajar. Kebetulan saat itu Dek Emy baru saja diterima menjadi mahasiswi jurusan  Pendidikan Agama Islam di sebuah unversitas di Solo. Alhamdulillah, dengan kehadiran Dek Emy TPA kami rasanya menjadi semakin semarak.

Melihat aktivitas masjid yang menggeliat dengan keberadaan TPA kami ini, Ibu Kepala Desa mengajukan proposal bantuan pengembangan TPA ke pemerintah daerah. Setelah menunggu beberapa bulan, Alhamdulillah dana tersebut cair. Kami pakai untuk membeli buku IQRO dan buku-buku bacaan Islami serta untuk menyelenggarakan outbond dengan menggunakan jasa pemandu outbond yang profesional. Anak-anak senang bukan kepalang. Sejak adanya buku-buku Islami dengan cerita dan gambar yang menarik, aktivitas kami di TPA tidak hanya belajar membaca dan menghafal Al-Quran tetapi juga membaca buku.

TPA semakin tampak lebih hidup. Sesekali kami memperlihatkan video Islami kepada anak-anak. Kami juga berlatih bermain drama dengan lakon kisah-kisah sahabat Rasulullah. Saat ada lomba TPA di tingkat kecamatan, kami pun tak ketinggalan untuk ikut berpartisipasi.

Bulan Ramadhan pertama -setelah TPA kami kembali berjalan- pun datang.  Saat itu kami, para pengajar, memutuskan untuk sebulan penuh TPA masuk tanpa libur. Terblesitlah ide dalam benak saya untuk menyelenggarakan acara buka bersama. Akan tetapi, darimana dananya? Jika anak-anak diminta untuk membawa bekal makanan masing-masing, sepertinya akan memberatkan orang tuanya karena sebagian besar warga kami berada dalam tingkat ekonomi menengah kebawah. Lalu bagaimana sebaiknya?

Hari pertama puasa, saya berinisiatif untuk membeli kurma dari tabungan pribadi saya. Saat berbuka tiba, setiap anak saya beri 5 biji kurma dan segelas teh manis hangat. Anak-anak tampak senang. Mereka mungkin tidak terlalu memperhatikan “menu” buka puasa yang mereka terima tetapi yang mereka perhatikan dan nikmati adalah suasana buka puasanya saat itu. Duduk melingkar,  bersama-sama menghafalkan surat-surat pendek sambil menunggu waktu berbuka tiba, kemudian membaca doa berbuka bersama-sama. Mungkin hal-hal yang tampak sederhana itulah yang membuat mereka tampak riang dan bersemangat sore itu.

Hari ke-2 puasa, “menu” yang saya sajikan masih yang sama dengan hari pertama. Anak-anak masih tampak ceria. Hari ke-3, saya mau membeli apa lagi ya? Kalau untuk makan besar seperti nasi, jelas tabungan saya tidak akan mencukupi. Untuk makanan ringan -semacam yang saya sajikan pada hari pertama dan ke-dua- saja tabungan saya segera menipis dan mungkin hanya akan bertahan dua atau tiga hari lagi jika saya menyajikan “menu” dengan harga yang kurang lebih sama dengan hari pertama dan ke-2. Itu pun selama 2 hari kemarin teh dan gula Ibu saya yang membeli. Saya hanya membeli kurmanya.

Hari ke-3, kira-kira ba’da dzuhur, Ibu saya berkata bahwa beberapa warga menyedekahkan sejumlah uang dan beras untuk acara buka puasa anak-anak TPA. Nanti memasaknya akan dilakukan di rumah Mbak Umini, rumah warga yang tepat berada di samping masjid An-Nurrohman, masjid desa kami. Ibu-ibu akan bergotong-royong untuk memasak makanan buka bersama itu. Saya terharu, hampir tidak percaya mendengar ini. Ternyata ada warga yang tergerak dengan aktivitas kami di TPA.

Sejak hari itu, anak-anak TPA selalu mendapat menu buka puasa berupa makanan besar.  Menunya berganti-ganti. Kadang soto, opor ayam, sop ayam, bubur sagu mutiara, bubur kacang hijau, dll. Anak-anak tampak semakin bersemangat. Dana sedekah dari warga semakin banyak terkumpul. Saban hari ada saja yang bersedekah. Ada yang berupa beras, uang, buah-buahan, kue-kue ringan dsb. Saking banyaknya makanan yang disedekahkan, buka puasa bukan hanya bisa diberikan kepada anak-anak melainkan kepada seluruh jama’ah masjid yang hadir saat sholat maghrib, termasuk dibagi-bagikan untuk warga yang kurang mampu juga.

Di tahun-tahun selanjutnya, sedekah warga untuk buka bersama ini terus dilakukan. Semoga Allah SWT melipatgandakan pahala warga yang bersedekah untuk buka puasa ini.

Pak Hikmat Hardono, atasan kerja saya 2 tahun yang lalu, pernah berujar bahwa kebaikan itu menular. “Maka, teruslah berbuat baik dan sebarkan virus kebaikan itu dimanapun kalian berada”, begitu ujar beliau. Ya, saya sepakat dengan beliau. Saya melakukan semua ini karena terinspirasi dengan kebaikan yang dilakukan Tami, teman saya. Dan kelihatannya relasi sebab akibat antara“saya dan tami” juga berlaku untuk “saya dan warga desa saya”. Wallahu’alam bishowab. 

                                                                                                            ***
Artikel ini diikutsertakan pada kompetisi Blog Nurul Hayat : Nyala Inspirasi untuk Negeri. www.nurulhayat.org/partisipasi

2 komentar:

Fandhy Achmad Romadhon mengatakan...

bener banget, kebahagiaan adalah virus yg layak untuk ditularkan pada sekitarnya

Metias Kurnia Dita mengatakan...

Yap. Sepakat dengan mas Fandhy.