Translate

Kamis, 26 Februari 2015

Mengenang Buya HAMKA

Salah satu kebiasaan Buya HAMKA adalah mencatat intisari sebuah buah setelah buku tersebut selesai beliau baca. Beberapa waktu lalu saya membeli buku biografi Buya HAMKA yang ditulis oleh salah satu putranya, Irfan HAMKA. Terinspirasi oleh kebiasaan Buya yang gemar menulis intisari buku, saya menuliskan beberapa hal tentang Buya HAMKA di blog saya ini. Berharap ilmu yang saya dapatkan dari buku ini bisa terikat dan tentu saja saya berharap juga para pembaca bisa lebih kenal dengan Buya kemudian tergerak untuk mengikuti kebiasaan baik Beliau.

1. Buya HAMKA adalah sosok yang sangat dekat dengan Al-Quran. Buya selalu membawa serta Al-Quran kecilnya kemana-mana dan membacanya saat memungkinkan. Pada malam hari, sebelum tidur, Buya juga selalu membaca Al-Quran. Selain dekat dengan Al-Quran, hati Buya juga tidak pernah lepas dari dzikir untuk mengingat Allah. 

2. Buya sangat kukuh dalam urusan yang menyangkut agama. Pada suatu hari Buya mendapat surat dari Gubernur DKI Jakarta pada waktu itu, Ali Sadikin, yang meminta persetujuan Buya untuk membuat lokalisasi judi dan prostitusi yang legal di Jakarta. Buya kemudian membalas surat tersebut yang isinya meminta agar gubernur meninjau kembali rencana itu. 

3. Kepada istrinya, buya sering meminta pertimbangan jika akan mengambil keputusan yang besar. Buya bisa saja mengambil keputusan sendiri dengan bekal kapasitas ilmu Buya yang mumpuni. Namun, Buya tetap meminta pertimbangan istrinya. Ini adalah bukti yang menunjukkan betapa Buya sangat menghormati wanita yang sudah berpuluh-puluh tahun mendampingi hidupnya itu. Sebagai contoh, saat Buya ditawari oleh Presiden Suharto untuk menjadi Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Buya meminta pertimbangan istrinya. Lalu istrinya menyarankan agar tawaran itu ditolak saja karena sebagai duta besar nanti Buya akan menjadi sangat sibuk sehingga dikhawatirkan akan mengurangi atau bahkan menghilangkan kesempatan beliau untuk membaca Al-Quran, menulis dan berceramah agama di masjid-masjid, di RRI dan TVRI. Buya pun menyetujui saran sang istri.

4. Saat perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI, Buya berkeliling Sumatra Barat dan Riau, masuk keluar hutan dan perkampungan penduduk untuk menghimpun massa agar mau bersama-sama melawan penjajah. Ini menunjukkan bahwa Beliau adalah seorang yang sangat nasionalis.

5. Beliau sangat gemar membaca dan menulis. Sejak awal usia belasan, beliau senang mendatangi perpustakaan milik pamannya. Selesai pulang sekolah diniyah, jam 10.00-13.00 Buya remaja tenggelam dalam buku-buku dari yang bertema agama, filsafat, pergerakan hingga roman-roman. Setelah membaca buku, dicatatlah intisari buku-buku tersebut. Perbendaharaan ilmu inilah yang membuat Buya akhirnya bisa menghasilkan karya-karya sastra besar seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Vijck dan Di Bawah Lindungan Ka'bah. Selain menulis roman, Buya juga menulis buku-buku Agama Islam. Salah satu karya terbesarnya adalah Kitab Tafsir Al-Azhar. Buya juga mendirikan sekaligus mengelola penerbitan majalah bernama Panji Masyarakat.  

6. Selain penyayang kepada sesama manusia, Buya juga penyayang kepada hewan. Adalah Si Kuning, kucing kesayangan Buya. Awalnya, Si Kuning hanyalah bayi kucing yang kurus kering, kelaparan dan kedinginan. Kucing itu tiba-tiba berada di rumah Buya. Buya lalu mengambil kucing tersebut, mengelap tubuhnya yang basah, meletakkannya di atas keset yang di atasnya ditaruh kain dan memberinya susu kental manis. Kucing yang akhirnya diberi nama Si Kuning itu terus setia menemani aktivitas Buya di sekitar rumah. Saat Buya sholat jamaah di Masjid Agung Al-Alzhar Kebayoran Baru,  Si Kuning selalu turut serta membersamai langkah Buya. Demikian juga setiap malam saat Buya mengaji di atas tempat tidur, Si Kuning selalu duduk di atas kaki Buya.


7. Pada masa Demokrasi Terpimpin, Buya difitnah oleh golongan komunis bahwa Buya merencanakan pembunuhan terhadap Presiden Soekarno. Pada Waktu itu, tokoh yang getol menulis tuduhan tersebut adalah Pramoedya Anantatoer. Selain melancarkan kritikan pedas dan tuduhan keji terhadap Buya, golongan komunis juga membredel semua buku-buku dan karya tulis Buya. Tuduhan tersebut menyeret Buya ke dalam penjara selama 2 tahun 4 Bulan. Beberapa tahun berselang setelah Buya bebas, datangklah Astuti, salah seorang putri Pramoedya Anantatour, ke rumah Buya bersama calon suaminya yang nonmuslim. Astuti  diperintahkan sang ayah untuk mengantarkan calon suaminya kepada Buya HAMKA agar belajar Agama Islam. Buya pun bersedia mengajari agama pada pemuda itu. Ini menunjukkan betapa pemaafnya Buya. Di sisi lain, ini juga menunjukkan permintaan maaf Pram, penulis tetralogi Bumi Manusia itu, kepada Buya. Permintaan maaf yang tidak disampaikan secara eksplisit. 
 



2 komentar:

Penanti Hujan Perindu Pelangi mengatakan...

karya buya hamka emang bagus2 banget, semuanya aku suka
mampir yuk
http://rainisrainbow.blogspot.com/2015/02/liburan-musim-dingin-di-jepang-impian.html

mariana suci swastika mengatakan...

mana yang buat lomba dit?