Translate

Kamis, 22 Januari 2015

Terima Kasih Ibuk

Kemarin pagi saya mengunjungi rumah sakit. Demam semalaman membuat saya harus absen dari kantor pada pagi harinya. Daripada semakin parah, sebaiknya saya segera berobat, itu pikir saya.

Saya baru menyadari bahwa terakhir kali pergi ke rumah sakit untuk berobat adalah pada bulan April tahun lalu. Ini berarti sudah 9 bulan saya tidak sakit, Alhamdulillah. Ini benar-benar patut disyukuri.

Ketika saya datang, dokter di bagian Poli Umum, poli tempat saya akan berobat, belum datang. Masih jam 09.00 pagi, belum banyak pasien yang datang. Setengah jam menunggu, dokter belum juga datang dan saya menjadi gusar. Di ruang tunggu itu pun sudah penuh dengan pasien yang mengantri. Kebetulan di samping Poli Umum ada Poli Anak sehingga ruang tunggu itu didominasi oleh para ibu yang membawa balita mereka yang akan diperiksakan. Sesekali terdengar suara tangis balita dari kamar periksa. Sesekali saya mengintip dari pintu kamar periksa yang tak sepenuhnya tertutup. Ada perasaan kasihan, iba, sedih, pada bayi-bayi itu. Juga, pada ibu mereka yang tampak berusaha tegar walaupun mungkin sebenarnya mereka tidak tenang.

Saya seolah melihat wajah Ibu saya. Seperti itukah dulu raut wajah Ibu saat saya sakit? 

Dulu Ibu sering bercerita, saya punya dokter langganan namanya dr Harsono. Jika saya sakit, sambil mengayuh sepeda, Ibu menggendong saya yang masih balita. "Kalau sudah dibawa ke Pak Harsono, pasti sembuh", kata Ibu sambil membanggakan dokter yang tempat praktikknya berjarak 2 km dari rumah kami itu. Ah Ibu, beliau selalu dengan semangat dan bahagia berkisah tentang masa kecil saya. Tak pernah secuilpun terselip cerita duka. Padahal, dulu ketika menjalaninya mungkin rasanya tidaklah mudah. Saat saya sakit misalnya, mungkin perasaaan dan raut wajah Ibu tak ada bedannya dengan ibu-ibu yang kemarin pagi saya temui di rumah sakit.

Pulang dari rumah sakit, saya memutuskan tidak akan memberi kabar pada Ibu bahwa saya sedang sakit. Saya tidak ingin membuatnya bersedih. Malam hari, ibu mengirim sms, "Lagi apa, Nduk? Udah tidur apa belum?" Lalu saya jawab, "Belum buk, lagi baca buku. Ibuk lagi apa?" Ibu menjawab lagi, "Ibuk lagi nonton kompas tv, Nduk."

Saya lalu tidak menjawab lagi. Saya bersiap untuk tidur, namun tidak bisa karena saya masih demam, hidung mampet dan mulai batuk-batuk. Sedih sekali rasanya. Mungkin, saya bisa tidur setelah ibu mendoakan saya, pikir saya tiba-tiba. Saya pun kembali mengetik pesan singkat pada Ibu, "Ibuk, aku lagi pilek. Doakan cepet sembuh ya, buk." Saya sengaja tidak dengan detail memberi tahu sakit saya agar Ibu tidak terlalu sedih. Datang lagi satu pesan dari Ibu. "Iya, ibuk doakan. Minum obat biar cepet sembuh." Akhirnya, saya segera terlelap.

Terima kasih Ibuk! 



4 komentar:

mariana suci swastika mengatakan...

kamu sakit ditul??sekarang gimana??

Metias Kurnia Dita mengatakan...

Iya Mariii... masih sakit ini. Tapi udah masuk kantor. Doakan cepet sembuh ya say..

Tami Ahda Syahida mengatakan...

Cepet sembuh ya Dita.

Metias Kurnia Dita mengatakan...

Makasih ya Tamiii... udah sembuh :-)