Translate

Kamis, 29 Januari 2015

Ketika Bunuh Diri Dianggap Sebagai Pilihan Terbaik

Kemarin saat saya mengajar Bahasa Indonesia pada seorang staf Jepang di kantor saya, tiba-tiba berbeloklah obrolan kami pada fenomena bunuh diri yang terjadi di Jepang beberapa tahun terakhir ini. "Sudah biasa ya. Orang Jepang jisatsu (bunuh diri). Orang tidak ada uang, orang pusing, orang ada masalah, mereka pilih mati", staf Jepang tersebut menjelaskan dengan mimik muka datar, seolah memang semua itu adalah hal yang lumrah dan dimaklumi.

Saya memang sudah cukup sering mendengar tentang fenomena bunuh diri di Jepang. Bagaimana bisa negara semaju Jepang mempunyai kasus bunuh diri yang demikian tinggi? Tulisan ini bukanlah tulisan ilmiah yang berusaha mengupas fenomena jisatsu. Tulisan ini hanyalah uneg-uneg yang bersifat sangat subyektif.

Sejak berkuliah di Jurusan Sastra Jepang, saya menjadi sering bertemu dan berkomunikasi dengan Orang Jepang. Dari obrolan kami, saya tau bahwa gambaran "kehidupan setelah mati" tidak ada dalam benak Orang Jepang pada umumnya. Ajaran tentang "kehidupan setelah mati" yang notabene bersumber dari ajaran "agama Tuhan" sepertinya cukup sulit masuk dalam pikiran mereka. Ini karena secara umum Orang Jepang menjadikan agama sebagai gaya hidup (lifestyle) saja, bukan pedoman hidup. Mereka lahir sebagai Shinto, menikah di Gereja dan mati sebagai Buddha. Mereka mengenal konsep surga (tengoku) dan neraka (jigoku). Menurut pengetahuan mereka, orang yang baik akan masuk surga sedangkan orang jahat akan masuk neraka setelah meninggal. Lalu, bagaimana kalau meninggal dengan cara jisatsu? arwahnya akan kemana? 

Karena agama hanya dipakai sebagai lifestyle, orang Jepang tidak terlalu memikirkan kehidupan setelah mati. Ada yang percaya tentang surga dan neraka, ada yang percaya reinkarnasi, ada pula yang percaya bahwa mati adalah akhir dari segalanya (tidak akan terjadi apa-apa lagi setelah mati). Namun, kesemuanya itu umumnya tidak diimani sepenuhnya dalam hati, hanya sekedar percaya. Apa sebabnya bisa demikian? Ini mungkin karena pendidikan agama tidak diajarkan di sekolah-sekolah formal di Jepang. 

Saya tidak hendak memperlebar pembahasan tentang sebab kenapa sekolah-sekolah formal di Jepang tidak mengajarkan pendidikan agama. Saya hanya ingin mengaitkan fenomena bunuh diri dengan kepercayaan orang Jepang. Mungkin, (sekali lagi saya menggunakan kata "mungkin" karena analisis ini sangat subyektif) bunuh diri akhirnya menjadi pilihan yang dianggap terbaik karena pengetahuan tentang "agama Tuhan" tidak sampai kepada mereka. Atau mungkin juga sebenarnya mereka tau, namun mereka tidak mau menjadikan agama sebagai pedoman hidup karena agama bagi mayoritas mereka sudah kadung dianggap sebagai gaya hidup saja.

Tetiba saya merasa sangat bersyukur karena saya dilahirkan di negara yang masyarakatnya sebagian besar beragama. Menurut hemat saya, ini mungkin menjadi salah satu sebab mengapa tingkat bunuh diri di Indonesia tidak setinggi di Jepang. 

                                                                                                        ***
Kita tidak tahu hidup kita akan berakhir seperti apa dan dengan cara bagaimana. Semoga, Allah SWT mematikan kita, keluarga kita, sahabat-sahabat dekat kita dalam keadaan khusnul khotimah dan kelak mengumpulkan kita dalam syurga firdaus-Nya. Aamiin Yaa Rabbal 'alamiin.

2 komentar:

adilmuhammadisa mengatakan...

Seberat apapun kondisi seseorang di dunia, itu masih lebih baik ketimbang mati karena di dunia masih ada kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Bagi yang sudah baik bisa lebih baik lagi, bagi yang belum baik bisa berubah menjadi baik.
http://wiseislam.blogspot.com/

Mbah Dam Activity mengatakan...

Saya tertarik sekali dengan fenomena bunuh diri ini. Tayangan di Kick Andy juga cukup memberi keluasan berpikir. Namun saya sayangkan pada beberapa pihak yang cenderung menganggap fenomena bunuh diri ini sebagai angin lalu sehingga disikapi dengan reduksionistik. Hal ini sangat berbahaya karena ketika seseorang benar-benar berniat bunuh diri maka seharusnya ia mendapatkan penanganan khusus karena pasti ada yang salah dalam mental atau sistem syarafnya. Kecuali ada pandangan politis seperti ini: Biarkan saja bunuh diri terjadi agar mengurangi jumlah penduduk dan persaingan tenaga kerja, toh mereka yang bunuh diri pastilah sampah masyarakat yang tidak berguna bagi kehidupan bangsa dan negara.
Anyway.