Translate

Sabtu, 26 Desember 2015

Rosimar Arnis

Kami saling memperlihatkan name tag masing-masing saat berkenalan siang itu, suatu siang di awal Mei 2015. Membaca namanya yang tercetak di atas kartu berukuran 10 x 15 cm itu, saya langsung berseru, "Kamu orang Sumatera Barat?" Cepat-cepat ia menjawab, "Bukaaaan. Tapi nama Rosimar Arnis memang sering dipakai orang Padang." Dengan satu pertanyaan pemantik saja, ia mulai bercerita banyak hal tentang nama, keluarga, kampus dan bahkan masa kecilnya! Oci, begitu ia disapa, ternyata asyik juga diajak ngobrol, batin saya kala itu.

Rosimar Arnis yang akrab dipanggil Oci ini tak lain adalah salah satu teman di tempat saya bekerja sejak delapan bulan terakhir. Gurat wajahnya tegas, khas orang Sumatera. Namun, sepertinya ketegasan gurat wajahnya itu juga merupakan hasil dari beban hidup yang menurut saya cukup berat pernah ia alami. Dalam beberapa kesempatan ia pernah menceritakannya pada saya. Hingga suatu ketika, saya pernah meminta izin padanya, "Let me write your story, Ci".

"Baju SD yang aku pakai ini Mbak, baju bekas!", kenangnya sambil menunjukkan foto usang masa kecilnya. "Aku pengin banget sekolah, tapi orang tuaku gak punya uang cukup buat beli baju baru. Jadi, mereka membelikanku baju bekas", ia bercerita sambil tersenyum. Ada kegetiran tervisualisasi dari senyum itu.

"Aku, orang tua dan dua adikku hidup di sebuah rumah kontrakan di Palembang. Bagian depan rumah petak beratap seng itu dipakai orang tuaku untuk berjualan kebutuhan sehari-hari. Dari sanalah kami menyambung hidup. Meski hidup sederhana, kami sangat bahagia. Di ruang tengah, begitu kami menyebut satu-satunya ruang lapang di rumah itu, kami berkumpul; dari mengobrol, makan, mengerjakan PR, nonton TV hingga tidur. Itulah sumber kebahagiaan kami. Sampai-sampai, teman-temanku yang kaya sering main ke rumahku hanya sekedar mau duduk berkumpul bersama di sana."

"Ibuku termasuk orang yang sadar tentang pentingnya pendidikan, Mbak. Walaupun penghasilan kami pas-pasan, Ibu mengizinkanku mengikuti les beberapa mata pelajaran. Saat masuk SMA, bahkan aku diizinkan bersekolah di SMAN 2 Sekayu, salah satu sekolah terbaik di kabupaten yang letaknya 3 jam perjalanan dengan bus dari rumahku. Waktu itu aku ngekos dan orang tuaku membiayai semua itu."

"Salah satu impianku adalah bisa kuliah di universitas negeri. Aku belajar sungguh-sungguh untuk mempersiapkannya. Awalnya aku optimis bisa masuk universitas negeri karena di SMAku setiap tahun hampir bisa dipastikan 60% siswanya lolos seleksi perguruan tinggi negeri. Tapi mbak, ternyata aku gak lolos! Itu ujian berat bagiku dan tentu orang tuaku juga. Aku sampai berbulan-bulan gak bernafsu makan."

"Tapi aku tetep ingin kuliah. Aku sebenarnya lolos seleksi kelas ekstensi di Universitas Sriwijaya. Tapi, ekstensi kan mahal banget Mbak. Sedangkan waktu itu tabungan orang tuaku sebagian besar sudah dipakai untuk membeli rumah setahun sebelum aku lulus SMA. Ya sudah, aku akhirnya kuliah di Poltek swasta yang biasanya SPPnya masih cukup terjangkau." Saya mendengarkan cerita Oci baik-baik, sambil mencatatnya di dalam otak saya. 

"Pas kuliah, aku dapat beasiswa sih mbak. Tapi ya standar, PPA dan BBM. Itu pun ada gilirannya karena di kampus swasta seperti kami, beasiswa semacam itsangat terbatas kuotanya", Oci melanjutkan ceritanya, saya menyimak.

"Lulus kuliah, aku daftar di sebuah BUMN, sudah sampai tahap wawancara akhir yang menyisakan 5 kandidat. Semuanya dari universitas negeri dan aku satu-satunya dari kampus swasta. Salah satu pertanyaan di wawancara itu, aku ditanya apakah aku punya kenalan di perusahaan tersebut atau tidak. Aku menggeleng karena memang gak ada. Dan jawaban inilah yang kemungkinan membuatku gak diterima."

"Aku lalu ditawari untuk bekerja di kampus almamaterku. Aku terima saja, sambil mencari pekerjaan yang menjanjikan penghasilan yang lebih besar karena aku mau membiayai dua adikku. Adalah kesyukuran akhirnya aku bisa lolos seleksi di tempat kerja kita sekarang ini, Mbak."

"Dua adikku sebernarnya lolos perguruan tinggi negeri. Tapi mereka gak bisa dapat beasiswa semacam Bidik Misi karena selalu sudah gugur baru di tahap administrasi. Sebabnya sepele banget, Mbak. Foto rumah dan rekening listrik!

Rumah kami sekarang sudah lumayan bagus. Lantainya sudah keramik dan atapnya berplafon. Kalau difoto, jelas kelihatannya bagus. Kalau dibandingkan dengan anak-anak di kampung yang rumahnya dari kayu dan sederhana, jelas mereka yang akan lolos seleksi. Padahal sebenarnya mereka punya banyak uang dari hasil kebun karet mereka. Rekening listrik juga. Kami setiap bulan tagihan listriknya lebih dari Rp 400.000 karena ada 3 kulkas di rumah kami. Taukah para penyeleksi beasiswa itu kalau tiga kulkas itu adalah penyambung nyawa kami? Dengan kulkas itu Ibu mengumpulkan rupiah demi rupiah dari hasil penjualan es."

"Lalu aku katakan ke adik-adikku kalau Allah itu kasih rezeki bukan hanya dari jalan beasiswa. Kakak sekarang penghasilannya bagus, itu juga rezeki yang Allah berikan untuk kalian lewat perantara kakak", Oci menutup ceritanya.

Bagi saya, Oci adalah Ikal dalam versi lain. Kegigihannya mencari ilmu, kemampuannya menertawakan kegetiran adalah semacam inspirasi bagi anak-anak Indonesia yang rindu akan pendidikan di tengah keterbatasan yang menghimpit. Jika Oci bisa maju, maka anak-anak yang lain pun tentu bisa! 



Minggu, 20 Desember 2015

Hadiah Sepeda

Rezeki itu sungguh hanya Allah yang mengatur. Dan hanya Dialah sebaik-baik Pengatur.

Tidak ada yang menyangka Rabu malam itu saya mendapat hadiah sepeda setelah menjawab pertanyaan dari ustad di sebuah acara pengajian rutin di sebuah masjid di Jakarta. Tentu bukan main saya senangnya. Saya membayangkan bisa bersepeda di hari Minggu ke Taman Suropati, taman yang tak terlalu jauh dari tempat tinggal saya, Salemba. Terlintas kembali keinginan saya yang sempat terpendam: bersepeda keliling Jakarta! 

Dua kali pagi hari setelah Rabu malam itu, saya selalu menyempatkan menyapukan pandangan saya ke tempat parkir kos untuk memastikan sepeda saya masih ada di sana. Sekejap menatap, senyum pun terkembang. Ternyata saya memang benar-benar punya sepeda!

Hari berikutnya, saya mulai berfikir lain. Saya terbiasa pulang dan pergi ke kantor dengan jalan kaki karena jarak kos saya dengan kantor memang cukup dekat, tak sampai 1 km. Ini berarti, sehari-hari saya tidak membutuhkan sepeda. Akhir pekan adalah waktu yang paling memungkinkan saya bisa memakai sepeda. Tapi, saya lebih sering menghabiskan akhir pekan untuk mengikuti beberapa majelis ilmu. Dari perhitungan itu, maka dapat dipastikan bahwa sepeda itu akan lebih sering teronggok di tempat parkir kos daripada terpakai. 

Kenapa sepeda ini tidak saya wakafkan pada orang yang lebih membutuhkan saja? Bukankah itu akan membawa manfaat yang lebih besar? Pertanyaan-pertanyaan itu menggelayut di fikiran saya sebagai self talk. 

Ya, anak itu. Sebut saja dia Hasan. Saat ini Hasan duduk di kelas V sebuah Madrasah Ibtidaiyah di kampung halaman saya. Anak kedua dari empat bersaudara ini sangat rajin bersekolah. Saat saya pulang ke rumah, beberapa kali saya melihat Hasan pulang sekolah dengan jalan kaki, padahal jarak rumahnya ke sekolah tak kurang dari 2 km. Apakah anak itu tidak memiliki sepeda?

Saya segera menelpon ibu untuk memastikan ini. Menurut penuturan ibu, Hasan punya sebuah sepeda kecil namun sepertinya sepeda itu sering rusak sehingga tidak bisa dipakai. Akhirnya saya dan ibu sepakat menghadiahkan sepeda itu pada Hasan. Semoga dengan sepeda baru Hasan bisa lebih semangat bersekolah.

Dengan kereta api saya mengirimkan sepeda itu. Setelah sepeda itu tiba di rumah saya, ibu segera mengundang Umi Hasan untuk mengambil sepeda yang baru saja mengalami perjalanan panjang dari Jakarta ke Jawa Tengah itu. 

HP saya berdering, ada nama ibu tertera di layar. Terdengar suara ibu di ujung sana, "Iki ndok, Umine Hasan arep ngomong." Lalu, suara pun berganti, "Halo Mbak, matur nuwun nggih Mbak", suaranya bergetar. Jeda, beberapa detik. Hanya sesenggukan yang terdengar, tak ada kata-kata. "Sampun dangu Hasan nyuwun ditumbaske sepeda Mbak. Tapi kula dereng gadhah arta. Niki alhamdulillah Allah malah maringi lewat perantara njenengan", Umi Hasan bertutur masih dengan suara yang bergetar.

Hati siapa yang tidak meleleh mengengar kata-kata seperti itu? Saya tidak menyangka bahwa sepeda yang bagi kita mungkin sepele, tapi bagi Hasan dan Umi Hasan ternyata merupakan sesuatu yang begitu berarti. Kita bisa saja dengan mudah membeli ini itu dengan harga yang tak murah. Tapi, di sisi lain penjuru bumi sana, bahkan ada orang-orang yang kesulitan untuk sekedar memenuhi kebutuhan pokoknya. 

Maka, jelas tak salah kalau Allah menyuruh kita untuk menghindari sifat kikir. Allah menyuruh kita untuk banyak menafkahkan harta yang kita miliki di jalan Allah. Jika kita membaca Al-Quran, hampir setiap empat atau lima lembar sekali kita bisa menemukan ayat tentang perintah Allah ini: zakat, infak, sedekah dan sejenisnya. 

Kita mungkin tidak akan bisa menyamai level Usman bin Affan atau Abdurrahman bin Auf dalam menginfakkan haranya di jalan Allah. Namun, semoga kita bisa menyontoh sifat mereka yang begitu dermawan itu. 

                                                                                         ***
Terima kasih untuk Rosi, Mbak Arta dan Mbak Desi yang telah menyemangati saya menjawab pertanyaan dari ustad sehingga saya mendapat hadiah sepeda. Terima kasih untuk Rida yang telah mengantar saya ke Stasiun Senen untuk memaketkan sepeda untuk Hasan itu.


Rida dan sepeda untuk Hasan


Sabtu, 19 Desember 2015

Teman Lama

Salam penutup dari moderator bagai aba-aba yang membuat peserta majelis An-Nisa di AQL Islamic Center Sabtu siang itu berdiri nyaris serentak. Berputar arah kemudian menuju tempat wudhu karena sebentar lagi akan masuk waktu dzuhur. Tiba-tiba, telinga saya mendengar nama saya dipanggil, "Mbak Dita!"

Saya mengedarkan pandangan, mencari sumber suara. Seorang perempuan muda berjilbab dan bergamis coklat tua melambaikan tangan ke arah saya sambil sekali lagi menyebut nama saya.

"Riska?"

"Iya, Mbak!"

Kami pun berpelukan, melepas rindu sambil mengingat-ingat sudah berapa tahun kami tak bersua. Ingatan saya seketika mengembara ke masa-masa sewaktu kami masih menyandang status sebagai mahasiswa Gadjah Mada. 

Kami berteman baik kala itu. Walaupun berbeda jurusan, kami relatif sering bertemu karena kami menjadi pengurus organisasi yang sama. Sayangnya, kebersamaan itu tak berlangsung lama. Riska tergolong mahasiswa yang brilian sehingga pada pertengahan tahun 2010 ia bisa menamatkan Diploma Tiganya tepat waktu. Sejak itu kami tak pernah bertemu lagi, hingga Sabtu siang di awal Desember 2015 yang dibalut gerimis tipis itu.

Siang itu Riska segera bisa mengenali saya setelah saya mengajukan pertanyaan kepada ustadzah pada sesi tanya jawab. Selepas acara, tanpa ragu Riska menyapa saya terlebih dahulu. Awalnya saya hampir tak mengenali penampilannya. Tapi, saya yakin tak asing dengan suara yang memanggil saya itu. Setelah mata saya menangkap wajah Riska, satu atau dua detik kemudian otak saya berhasil menerjemahkan nada suara dan wajah yang baru saja saya lihat. Tidak salah lagi, dia Riska!

Secara penampilan, Riska totally different. Riska yang saya lihat Sabtu siang itu bukan lagi Riska yang memakai celana jeans, kemeja berlengan panjang dan jilbab paris minimalis seperti lima tahun silam. Riska yang sekarang adalah Riska yang penampilannya masyaAllah, sangat sholihat. 

Kami mengobrol beberapa menit sambil menunggu waktu dzuhur. Kami saling bercerita tentang pekerjaan dan aktivitas kami saat ini. Saya pun harus berkali-kali berucap masyaAllah saat Riska bercerita tentang kegiatannya menuntut ilmu di berbagai majelis ilmu yang memang banyak di gelar di ibukota. Ia mempersembahkan waktu dan sebagian rezekinya untuk menuntut ilmu.

"Senin sampai Rabu ada kajian di kantor, Mbak, setelah jam kantor. Materi rutinnya tahsin. Kamis malam aku ikut kajian Ustad Fatih Karim yang di Masjid BI (Bank Indonesia). Kajian bulanan yang ustad Khalid Basalamah di AQL juga ikut. Kalau weekend kadang ke AQL, BI atau Istiqlal." Kami lalu menyebutkan beberapa judul kajian yang pernah kami ikuti dan ada beberapa yang sama. Dan ternyata takdir Allah akhirnya mempertemukan kami di majelis An-Nisa hari itu. Takdir Allah memang selalu penuh kejutan!

Saya sangat bersyukur dipertemukan dengan Riska di sebuah majelis ilmu, majelis yang insyaAllah malaikat pun datang untuk melingkupinya. Apa jadinya jika hari itu saya memutuskan pergi ke tempat lain yang katakanlah kurang baik, tentu saya tidak akan bertemu dengan Riska yang cantik nan sholihat itu. Pertemuan dengan Riska ini mengingatkan saya pada perkataan Ibu beberapa hari sebelumnya, "Kalau perginya ke tempat-tempat baik, insyaAllah ketemunya juga teman-teman baik."

Mengobrol dengan Riska beberapa menit, hujan menderas. Usai sholat dzuhur pun hujan masih deras. "Mbak mau kemana setelah ini?", tanya Riska pada saya (Fyi, Riska ini seumuran dengan saya dan sejak dulu hingga sekarang selalu memanggil saya dengan sebutan 'mbak'). "Mau ke rumah teman di daerah Karet, Ris", jawab saya.

"Naik apa, Mbak?"
"Naik kereta dari Stasiun Tebet."
"Kalau gitu bareng aku aja yuk Mbak, sampai stasiunnya. Aku udah pesen taksi." 
"O gitu,.,.. ", saya bingung mau merespon apa.
"Mbak bawa payung gak?
Saya menggeleng, speechless.
"Ya udah mbak, pake payungku aja ya!"

Saya kembali speechless. Ah Riska, kamu masih sama baiknya seperti dulu. Semoga Allah selalu memperjalankan kita ke tempat-tempat yang diberkahi ya Riska! Semoga kaki kita selalu Allah ringankan untuk melangkah ke majelis-majelis ilmu. Dan semoga hati, lisan, pendengaran, penglihatan dan seluruh anggota badan kita selalu sami'na wa atho'na untuk mengamalkan ilmu yang kita peroleh. 


sumber gambar klik di sini

Selasa, 08 Desember 2015

Kajian Tauhid: Mengingat Ajal

Hari/Tanggal : Senin, 30 November 2015
Jam : 19.30-21.30
Pemateri : KH Abdullah Gymnastiar
Tempat : Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia

Apakah Allah Yang Maha Baik sedang menatap kita? Apakah Allah Yang Maha Agung sedang menyaksikan kita? Yakin? Apakah Dia sedang mendengarkan apapun yang terucap? Apakah Allah tau siapa diri kita yang sesungguhnya? Pasti. Hanya karena Allah menutupi aib kita, kita masih menjadi manusia yang dihargai oleh orang lain.


Mudah-mudahan Allah Yang Maha Baik menggolongkan kita menjadi orang yang sibuk merasa ditatap Allah setiap saat sehingga tidak ada tempat bersembunyi dari perbuatan maksiat. Mudah-mudahan Allah menggolongkan kita menjadi orang yang merasa selalu didengar oleh Allah sehingga kita tidak perlu merekayasa kata-kata agar disukai orang. Semoga kita selalu merasa Allah menemani kita sehingga kita tidak pernah merasa kesepian dimanapun, kapanpun.

Siapapun yang mengenal Allah dengan baik, ia pasti akan sering menangis dan takjub kepada Allah. Dan siapapun yang mengenal Allah dengan baik, mendengar kematian bukan sesuatu yang menakutkan. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semua terjadi atas izin Allah, termasuk datangnya ajal.  

Kecerdasan seseorang itu parameternya adalah seringnya ia mengingat mati dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati. Kematian itu pasti datang. Allah merahasiakan tiga hal yang berkaitan dengan kematian kita: kapan kita mati, dimana kita mati, dan dengan cara apa kita mati. Bagi kita, yang paling penting adalah bagaimana kita bisa melewati itu dengan khusnul khotimah. Prestasi di dunia ini bukan dicapai dengan pujian dan penghargaan tapi dengan khusnul khotimah.

Kenapa Allah merahasiakan kematian kita? 

Jangan Menunda Kewajiban

Salah satu hikmah Allah merahasiakan kematian kita adalah agar kita jangan menunda kewajiban. Jangan sampai mati sebelum kewajiban ditunaikan. Adzan berkumandang, segera sholat karena kata Allah, "assholatu 'ala waqtiha, sholatlah di awal waktu." Alhamdulillah kemarin Aa dipertemukan dengan pemuda Indonesia di Jepang. Pemuda ini selalu menjaga wudhu karena takut tertinggal waktu sholat. Ia sholat di stasiun, di taman dan dimana saja ia berada saat waktu sholat tiba. MasyaAllah!

Jangan Menunda Taubat

Hikmah lainnya adalah jangan menunda taubat. Maksiat kita, yang belum sempat diketahui orang, segera mintakan ampun pada Allah sebelum Allah membuka maksiat itu pada orang banyak. Perbanyak istighfar sambil berdiri, duduk maupun berbaring.

Jangan sampai kita mati di tempat dimana nama-nama Allah tidak pernah disebut, ayat-ayat Allah tidak pernah dibacakan. Jangan anggap remeh mengunjugi tempat-tempat maksiat. Jangan anggap remeh perbuatan maksiat. Hati-hati yang pacaran, jangan sampai mati di jalan saat boncengan dengan pacarnya. Para koruptor, jangan sampai mati sebelum mengembalikan uang yang sudah dikorupsi. Jangan meremehkan maksiat sekecil apapun itu. Bersegeralah pada ampunan Allah.

Jangan Sia-siakan Kebersamaan

Kita berangkat dari rumah, apakah kita yakin akan kembali bertemu dengan keluarga kita? Berangkatlah dalam keadaan tidak marah. Berangkatlah dengan doa yang baik-baik. Dengan orang tua, cium tangannya, mintalah doa. Biasakah kita berpisah dalam kebaikan, berkumpul dalam kebaikan.

Berbaik Sangka

Kita harus selalu berbaik sangka terhadap ketetapan yang Allah tetapkan pada kita, sebagaimana firman Allah, "Anna 'inda dhonni, abdi Bi". Allah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya.

Ada sebuah kisah tentang seorang pengawal Raja yang selalu berbaik sangka pada Allah. Suatu hari, saat pergi berburu, Raja diterkam binatang buas dan salah satu jari tangannya buntung digigit binatang itu. Lalu pengawal membunuh binatang buas itu. Pengawal berkata, "Ini takdir yang terbaik bagi paduka." Raja marah karena jarinya buntung. Raja kemudian memerintahkan agar si pengawal tadi dipenjara. Si pengawal menerima hukuman itu dengan ikhlas.

Setelah sembuh, Raja kembali berburu, sendirian. Raja tersesat dan tertangkap oleh suku primitif dan akan dijadikan kurban. Saat akan dikurbankan, anggota badan Raja diperiksa. "Oh, ternyata jari tangan orang ini tidak lengkap, maka tidak sah dijadikan kurban. Kalau begitu lepaskan saja", kata suku primitif itu. 

Raja kembali ke istana dan berkesimpulan, "Benar kata pengawalku dulu. Buntungnya jariku ini ternyata memang ada hikmahnya." Raja kemudian membebaskan pengawalnya. Setelah mendengar kisah Sang Raja yang nyaris menjadi kurba suku primitif, Si Pengawal berkata, "Saya bersyukur sudah masuk penjara." Lalu Raja bertanya, "Kenapa kamu tetap bersyukur padahal kamu hidup di penjara?" Jawab Si Pengawal, "Jika saya tidak dipenjara, maka saya akan menemani Baginda berburu. Saat kita tertangkap suku primitif, maka sayalah yang akan dikurbankan karena anggota badan saya lengkap."

Hikmah dari cerita tersebut adalah bahwa apapun yang Allah tetapkan untuk kita, itu sudah merupakan yang terbaik menurut Allah. Ketika kita merasa hidup kita menderita, itu artinya kita kurang mensyukuri ketetapan Allah. Kalau kita fokus pada syukur, maka kepahitan itu menjadi tidak apa-apa. Ketika kita dihina orang misalnya, seharusnya kita tidak perlu sakit hati karena hinaan orang itu tidak ada apa-apanya dengan keburukan kita yang belum diketahui orang lain. 





360⁰

Hari/Tanggal : Rabu, 05 Agustus 2015
Jam : 19.30-21.30
Pemateri : Ustad Nuzul Dzikri, Lc
Tempat : Masjid Agung Al-Azhar

Angka 360⁰ adalah analogi untuk menggambarkan fenomena dimana saat kita memasuki Ramadhan, kita memasukinya dengan semangat yang membara, kita lahap semua ibadah di bulan Ramadahan, tapi selepas Ramadhan kita kembali pada gaya hidup kita sebelum Ramadhan. Kita tidak membaca Al Quran lagi, kita jarang berdzkir, puasa syawal pun tidak kita genapi. Masjid kembali sepi.


Lalu, bagaiman kita bisa istiqomah dan tidak jatuh pada fenomena 360⁰? Ini adalah tantangan besar bagi kita. Ada banyak hal yang bisa lakukan agar kita tetap istiqomah menjadi hamba Allah, bukan hamba Ramadhan.

Setelah Rasulullah meninggal, Abu Bakar pernah berkata, "Barang siapa yang menyembah Muhammad, ketahuilah bahwa Muhammad telah wafat. Barang siapa yang menyembah Allah, ketahuilah Allah akan terus ada selama-lamanya." Para ulama mengaitkan ini dengan Ramadhan, "Barang siapa yang menyembah Ramadhan, ketahuilah bahwa Ramadhan akan berakhir. Barang siapa menyembah Allah, ketahuilah Allah akan terus ada selamanya-lamanya. Seharusnya kita melakukan ibadah bukan karena datangnya Ramadhan, tapi karena Allah. Jadilah hamba Allah, jangan jadi hamba Ramadhan. QS. Al Hijr : 99, "Dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai datang kematian". Jadi, kita harus terus beribadah sepanjang tahun, tidak hanya Ramadhan saja. Lalu, bagaimana caranya supaya kita bisa terus istiqomah menjaga ibadah?

Evaluasi Hati

Semua berawal dari sini. Rasulullah bersabda, "Iman seorang hamba iu tidak akan istiqomah, kecuali hatinya dulu yang istiqomah."  (HR. Ahmad). Sebelum berbicara tentang berbagai ibadah, terlebih dulu mari evaluasi hati kita, niat kita apakah karena Allah atau bukan. 

Orang sekarang biasanya menjadikan parameter keshalihan seseorang dari penampilan. Padahal, Nabi Rasulullah mengatakan, "..... Sesungguhnya, di dalam jasad manusia ada segumpal daging. Jika daging itu baik, maka baik pula seluruh anggota badannya. Jika daging itu rusak, maka rusaklah seluruh anggota badannya. Ketahuilah segumpal daging itu adalah qalbu. (HR. Bukhori dan Muslim). Kita tidak akan commit beribadah, memilih yang halal daripada yang haram, kecuali kita memperbaiki hati (iman) kita terlebih dahulu.

Dakwah Rasulullah terdiri dari fase yaitu fase Makkah dan Madinah. Fase Makkah (13 tahun) Nabi hanya fokus pada Laillaha illallah, mengokohkan akidah, hati/iman kaum muslimin. Baru pada fase Madinah (10 tahun berikutnya) Rasulullah mengajarkan sholat, puasa dan ibadah fisik lainnya. Semua hukum fikih secara umum ada di fase Madinah. 

Apa yang membuat kita bangun sebelum Subuh dan sholat dua rakaat? Bukankah iman? Kalau hati ini sudah tumbuh di atas iman kepada Allah, maka apapun perintah Allah, kita selalu mengatakan sami'na wa atho'na. Seperti yang dilakukan para sahabat ketika larangan meminum khamar itu Allah turunkan di Madinah, maka para sahabat langsung meninggalkan khamar. Bahkan ada seorang sahabat yang baru saja meminum khamar langsung kembali memuntahkannya. 

Lagi-lagi ini masalah iman. Kita tidak sedang meremehkan sholat dan puasa. Namun, semua amalan dhahir itu tidak akan merealisasikan hakikat takwa yang sesungguhnya. Ibnu Qudamah (murid Syeikh Abdul kadir Al Jaelani) berkata, "Perbedaan para ulama terdahulu dengan orang saat ini adalah bahwa para ulama menghabiskan mayoritas waktunya untuk amalan-amalan hati." Kalau kita fokus pada sholat namun hati masih saja sombong, ini tidak ada gunanya. 

Para ulama klasik (para sahabat, tabi'in dan ulama terdahulu lainnya) pasca Ramadhan selama enam bulan berdoa kepada Allah agar Allah berkenan menerima amal ibadah mereka di bulan suci Ramadhan, "Rabbana taqobbal minna innaka Anta sami'un 'alim. Ya Allah terimalah amal ibadah kami di bulan Ramadhan." Hati mereka tidak bisa melupakan Ramadhan. 

QS. Al-Mu'minun: 60, "Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya." Rasulullah menjelaskan ayat ini dalam hadist Aisyah, "Mereka adalah orang-orang yang sholat, puasa Ramadhan, infak, sedekah, berdzkir, beribadah dan setelah mereka beribadah hati mereka takut jangan-jangan amalan mereka tidak akan diterima oleh Allah." 

Orang sekaliber Usman bin Affan yang khatam Quran sehari sekali di bulan Ramadhan pun tetap berdoa terus selama 6 bulan agar ibadah Ramadhannya diterima oleh Allah. Demikian juga dengan Imam Syafi'i yang sehari bisa mengkhatamkan Quran dua kali, beliau tetap berdoa pada Allah agar amalannya diterima. Mereka khawatir/takut apakah ibadahnya akan diterima oleh Allah atau tidak. Maka, PR kita hari ini adalah mempertebal amalan hati, menumbuhkan rasa cinta pada Allah, mengkaji tentang masalah keikhlasan, membaca ayat-ayat tentang surga dan neraka agar tumbuh rasa cinta dan takut kita pada Allah.

Belajar

Pasca Ramadhan, jika kita ingin terus istiqomah, maka kita harus terus belajar agama. QS. Ali-Imran: 101,  "Dan bagaimana kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan rasulnya (Muhammad) pun berada di tengah-tengah kamu? Barang siapa berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sungguh, dia diberi petunjuk kepada jalan yang lurus."  Artinya ini garansi bahwa jika kita tetap mendengarkan ayat-ayat Allah dikaji, maka kita bisa istiqomah. Kuncinya adalah kita harus punya waktu untuk duduk belajar mempelajari agama Allah. Syarat istiqomah adalah belajar. 

Teman

Kenapa Abu Bakar menjadi orang yang imannya tertinggi di antara para sahabat Rasulullah? Karena Abu Bakar adalah sahabat yang paling sering bersama Rasulullah. "Seseorang itu tergantung agama sahabat dekatnya. " (HR. Imam Ahmad). Kata orang Arab, "Seseorang itu anak dari lingkungannya." Kita adalah makhluk yang lemah. Kita sering terbawa oleh sifat-sifat sahabat kita. Maka, kita harus selektif memilih teman dekat kita. Pastikan orang-orang yang paling sering berbicara dengan kita adalah orang-orang sholih. Pastikan yang paling sering dilihat oleh mata kita adalah orang-orang sholih. 

Perumpamaan teman yang baik dengan yang tidak baik itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Jika kita berteman dengan penjual minyak wangi, maka ada tiga kemungkinan. Pertama, kita akan diberi minyak wangi itu. Kedua, kita akan membelinya. Ketiga, jika memang kita tidak punya uang untuk membelinya dan dia tidak mau memberi kita satu botol penuh, maka ia setidaknya akan memberikan beberapa semprot tester pada kita. Maka kita pun ikut menjadi wangi. Sementara itu, orang yang berteman dengan pandai besi, maka ia akan mengalami dua kemungkinan. Pertama, ia akan terkena cipratan api sehingga akan membolongi bajunya. Kemungkinan kedua, ia akan terkena asap sehingga berbau apek. 

Kita juga bisa menganologikan teman seperti air mineral. Sebotol air mineral yang dijual di pinggir jalan harnyanya Rp 5.000. Air mineral dengan merk yang sama kita temui di sebuah toko retail seharga Rp 7.000. Di lain hari kita menemukan air mineral dengan merk yang masih sama dijual di sebuah cafe di hotel bintang lima harganya Rp 25.000. Kenapa harganya bisa berbeda-beda? Ini karena lingkungan tempat air mineral itu dijajakan. Begitu pun dengan kita. Jika lingkungan pertemanan kita adalah orang-orang sekelas bintang lima, maka sekelas itulah kita. 





Minggu, 06 Desember 2015

Keajaiban Al-Quran

Hari/Tanggal : Senin, 30 November 2015
Pukul : 18.00-19.00
Tempat : Masjid Baitul Iman Bank Indonesia
Pemateri : Syeikh Ali Jaber

Syeikh Ali Jaber mengawali ceramah malam itu dengan cerita tentang seorang anak tunanetra yang sudah menghafal Al-Quran 30 Juz sejak usia 7 tahun, Jihad Al Maliki. Tidak hanya menghafal Al-Quran, Hafiz dari Jazirah Arab yang tahun ini (2015) berusia 11 tahun itu bahkan bisa hafal nomor surat, nomor ayat dan ayat-ayat yang mirip. Seorang anak tunanetra saja bisa menghafal 30 Juz, bagaimana dengan kita yang memiliki fisik yang sempurna? T_T

Untuk mengakomodasi para tunanetra Indonesia yang ingin belajar dan menghafal Quran, Syeikh Ali Jaber melalui yayasannya membuat program wakaf Quran digital (lengkap dengan terjemahan dalam Bahasa Indonesia) khusus untuk tunanetra. Direncanakan, Ramadhan tahun depan akan ada 10.000 Quran digital yang sudah diwakafkan kepada para tunanetra. Para jamaah yang malam itu hadir mengikuti pengajian di masjid Bank Indonesia bisa ikut bersedekah untuk pengadaan Quran tersebut.

Cinta Al Quran

Apakah kita benar-benar mencintai Al-Quran? Seseorang yang mencintai Al-Quran biasanya akan mempunyai ayat-ayat favorit yang ketika ia membacanya, maka itu akan menggetarkan hatinya dan menggerakkannya untuk beramal shalih. Ayat favorit Syeikh Ali Jaber adalah QS. Al Fathir: 29-30, "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-Quran) dan melaksanakan sholat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi, agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri."

Ada beberapa point yang menjadi kata kunci ayat di atas.

Karunia 

Dalam ayat tersebut Allah menjanjikan akan menambah karunia-Nya bagi orang-orang yang membaca Al-Quran, melaksanakan sholat dan berinfak. Karunia Allah itu wujudnya bermacam-macam, salah satunya adalah ketenangan hati.

Ampunan 

Allah itu Maha Mengampuni dosa-dosa makhluk-Nya. Allah Maha Mengampuni dosa orang yang salah dalam membaca Al-Quran daripada orang yang tidak pernah membaca Al-Quran. Allah Maha Mengampuni orang yang suatu saat lalai tidak Sholat Subuh berjamaah di masjid daripada orang yang sengaja tidak Sholat Subuh.

Salah satu bukti lain bahwa Allah itu Maha Pengampun adalah saat kita berbuat dosa, Allah perintahkan kepada malaikat untuk tidak mencatatnya dulu. Allah memberikan kita tenggang waktu tiga hari untuk bertaubat. Jika dalam tiga hari kita tidak bertaubat, maka perbuatan dosa tersebut baru dicatat oleh malaikat.

Syakur 

Syakur berarti yang menjaminkan pahala yang banyak dengan amalan yang sedikit. Misalnya, kita diperintahkan sholat 5 waktu, pahalanya 50. Sholat Subuh berjama'ah di masjid pahalanya seperti sholat sepanjang malam. Apapun amal sholih kita, jangan khawatir, Allah akan mengingatnya.

Perdagangan yang Tidak Rugi

Jangan terlalu mencintai dunia (uang). Syeikh Ali Jaber adalah tipe orang yang tidak suka menyimpan uang banyak. Setiap ada uang lebih, beliau selalu menyedekahkannya. Sampai-sampai, hingga 39 tahun hidup, beliau belum pernah terkena kewajiban zakat mal karena hartanya belum pernah melampaui nishob.

Amalan Kita yang Allah Sukai

Selain amalan-amalan yang disebutkan dalam QS. Al-Fathir di atas, Allah sangat suka kita beristighfar. Lebih-lebih, jika istighfar itu kita lakukan sambil menangis. Istighfar itu menggugurkan dosa-dosa. Setan sangat benci jika kita beristighfar karena hasil kerja mereka dalam membisikkan perbuatan dosa pada kita, berguguran satu per satu setelah kita beristighfar.

sumber gambar : play.google.com

Keutamaan Mencari Ilmu

Hari/Tanggal : Rabu, 2 Desember 2015
Jam : 19.30-21.30
Pemateri : Ustad Nuzul Dzikri, Lc
Tempat : Masjid Agung Al-Azhar


Di awal ceramah Ustad menyampaikan pesan Allah yang termaktub dalam QS. Az-Zumar: 9, "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang mengetahui (berilmu) sudah pasti berbeda dengan yang tidak mengetahui. 

Agama Islam adalah agama dalil (ilmu). Ayat pertama yang Allah turunkan pada Rasulullah diawali dengan kata Iqra (bacalah). Ini berarti kita sebagai muslim harus banyak membaca (mencari ilmu).

Allah juga memerintahkan umat Islam untuk melakukan sesuatu perbuatan atau ibadah berdasarkan ilmu, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Isra: 36, "Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." Rasulullah mempertegas wajibnya menuntut ilmu ini dalam sebuah Hadist riwayat Ibnu Majah, "Menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap muslim."

Saat ini, majelis ilmu secara umum sudah tidak mempunyai daya tarik. Ini karena banyak dari kita tak tau keutamaan mencari ilmu. Salah satu sifat manusia adalah ia akan melakukan sesuatu jika sesuatu itu ada manfaatnya. Misalnya begini, ada diskon 95% di sebuah mall. Pasti banyak orang yang datang karena mereka tau keuntungan yang mereka dapatkan. Nah, demikian juga dengan mentuntut ilmu. Jika kita paham betul keuntungan (keutamaan) yang akan kita dapatkan dari mencari ilmu, tentu kita akan bersemangat menghadiri majelis ilmu. Apa saja keutamaan mencari ilmu, yuk kita simak bersama-sama! 

Jalan Pintas ke Surga

Jika dari Jakarta kita ingin pergi ke Bandung, kita memilih lewat Tol Cipularang atau memutar lewat Puncak? Tentu, kita akan memilih Tol Cipularang karena itu yang lebih cepat, bukan? Untuk masuk surga kita pasti juga akan memilih jalan yang lebih cepat (jalan pintas). Menuntut ilmu adalah jalan pintas untuk masuk surga. 

Rasulullah SAW menjelaskan dalam satu hadist riwayat Muslim, "Siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan mudahkan jalan menuju surga untuknya." Sementara itu, bagi orang yang mengajak orang lain untuk mencari ilmu, Rasulullah menjelaskannya dalam hadist lain yang masih diriwayatkan oleh Imam Muslim, "Siapa mengajak kepada petunjuk, ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka."

Pembuktian Cinta

Salah satu cara pembuktian cinta kita pada Allah dan Rasulnya adalah dengan cara menuntut ilmu. Cinta kepada makhluk saja perlu dibuktikan, apalagi cinta kepada Allah dan Rasulullah? Ketika kita mencintai seseorang, kita biasanya akan mencari tau informasi apapun tentang orang yang kita cintai (kepo); tentang makanan kesukaannya, keluarganya, teman-temannya dan seterusnya. Jika kita benar-benar mencintai Allah dan Rasul-Nya, tentu kita akan melakukan hal yang sama, mencari tau apa yang Allah dan Rasul sukai. Misalnya, apa makanan kesukaan Rasulullah? Apa yang membuat Allah senang/murka? Inilah yang seharusnya kita cari tahu (pelajari). Kita harus punya waktu untuk duduk mengkaji Al-Quran.

Syair ulama, "Setiap laki-laki  mengaku mencintai Laila tapi  Laila tidak mencintainya.  Setiap orang mengaku mencintai Allah tapi Allah dustakan dia di hari kiamat kalau dia tidak membuktikannya"

Mengangkat Derajat

".....Niscaya Allah akan akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat" (QS. Al-Mujadilah: 11). Ini menjelaskan bahwa di akhirat nanti Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu. Imam Syafi'i mengakatan, "Barang siapa yang ingin sukses di akhirat, maka ia harus tau ilmunya." 

Pahala yang Besar

"Barang siapa yang berjalan ke masjid/ ke tempat menuntut ilmu dengan tujuan hanya mengkaji ilmu Allah, maka pahalanya sama dengan pahala naik haji." (HR. Tabrani). Suatu ketika, Rasulullah pernah bertanya pada para sahabat "Wahai para sahabatku, siapa yang ingin pergi ke Buthan dan Akik (pasar unta) untuk mendapat 2 unta merah (qamawain) secara gratis  dan halal setiap hari?" Sahabat berkata : "Jelas kita mau ya Rasulullah." Dan para sahabat  mau beranjak ke Buthan dan Akik. Lalu Rasulullah  berkata : “Sebelum  pergi ke sana kenapa tidak pergi ke masjid untuk mengkaji 2 ayat Al Qur’an karena  2 ayat itu lebih utama dari 2 unta dan 3 ayat itu lebih mahal dari 3 unta. Dan 4 ayat itu lebih mahal dari 4 unta, dan seterusnya." Menurut Imam Nawawi, ini menunjukkan bahwa ilmu lebih mulia daripada harta.

Tentang kemuliaan ilmu ini, Allah berfirman dalam QS. Yusuf: 58, "Katakanlah Muhammad, "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan." Kenapa demi gaji kita rela pergi ke kantor dari pagi sampai malam? Sedangkan untuk mencari ilmu kita tidak  punya waktu? Sebagaimana kita mencari rezeki  dunia yang tidak seberapa, maka seharusnya kita punya waktu  untuk terus menuntut  ilmu agama.


Nanti, di akhirat, akan ada orang-orang yang menyesal kenapa semasa hidup di dunia tidak mau meluangkan waktunya untuk mencari ilmu. Allah menerangkan hal ini melalui QS. Al-Mulk: 10, "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala" Semoga kita tidak termasuk dalam orang-orang yang menyesal itu. Aamiin. 


sumber gambar : iic.industri.undip.ac.id



Senin, 30 November 2015

Pena dari Makkah

Pagi itu, saya dan dua orang teman kantor saya, Rosi dan Mbak Putri, mengikuti Tabligh Akbar dengan tema Guruku Pahlawanku di Masjid Istiqlal. Di acara yang diselenggarakan oleh AQL Islamic Center ini kami sengaja datang lebih pagi agar bisa menempati shaf depan. Bagi kami, duduk di shaf depan di sebuah majelis itu banyak manfaatnya. Salah satunya adalah bisa lebih berkonsentrasi menyerap dan mencatat materi karena posisi kami yang cukup dekat dengan pembicara.

Ada tiga pembicara yang hadir di acara tersebut; Dr. Adian Husaini, Ustad Bachtiar Nasir dan Syeikh Khalid Al Hamudi. Dua pembicara yang saya sebut pertama itu saya sudah cukup familiar. Tapi, Syeikh Khalid Al Hamudi ini saya baru pertama kali mendengar nama beliau (mungkin karena saya yang kurang belajar).

Saat moderator mempersilakan Syeikh yang merupakan Imam Besar Masjidil Haram ini tampil dan mengisi materi, muncullah seorang berwajah Arab yang tengah duduk di atas kursi roda. Beberapa orang mendorong kursi roda beliau sampai ke atas panggung. Seketika itu hati saya rasanya ngilu seraya terus bertanya, "Itu benar Syeikh Khalid Al Hamudi?"

Melihat pemandangan itu, saya seperti dipaksa untuk memikirkan banyak hal. Beliau saja yang, maaf, tak bisa berjalan, mau terus berdakwah sampai jauh-jauh ke Indonesia. Bahkan, menurut penjelasan moderator, Syeikh Khalid Al Hamudi ini aktif berdakwah sampai ke Afrika. Sedangkan saya, yang secara fisik tak kurang satu apapun ini kadang masih berat mengayunkan kaki menghadiri majelis ilmu. Padahal, majelis ilmu ada di seputaran kota saya sendiri. Saya pun rasanya semakin seperti tertampar saat beliau mengingatkan kami para jamaah untuk sering menghadiri majelis ilmu karena salah satu fadhillah bagi seseorang yang berjalan ke majelis ilmu adalah Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.

Dengan semangat saya mencatat materi yang beliau sampaikan. Di akhir materi, beliau memberikan tiga pertanyaan kepada para jama'ah. Bagi yang bisa menjawab pertanyaan dengan benar, akan beliau beri hadiah. Sepersekian detik setelah pertanyaan pertama diterjemahkan oleh penerjemah, saya langsung mengangkat tangan. Sepersekian detik setelahnya, tangan-tangan lain ikut terangkat. Dan alhamdulillah, Syeikh mempersilakan saya menjawab pertanyaan pertama. Alhamdulillah lagi, jawaban saya dinyatakan tepat. Seorang anak laki-laki berwajah Arab mengambilkan hadiah saya dari atas panggung. Gemetar saya menerima kotak kecil bersampul putih itu. Bisa ditebak apa isinya? Yes, isinya adalah pena yang sangat indah. Bukan main saya senangnya.

Kenapa pena? Saya tak tau pasti apa maksud Syeikh memilih pena sebagai hadiah untuk kami. Mungkin, maksud beliau adalah agar kami semakin termotivasi untuk mendatangi majelis ilmu dan mencatat ilmu sebanyak-banyaknya dari para mu'allim (guru). Bagi saya pribadi yang suka dunia tulis menulis, hadiah pena ini seperti metafora agar saya terus menulis. Mungkin seperti itu.




Rabu, 25 November 2015

Hapsari

Dari 19 aksara yang menyusun namanya, ada satu kombinasi huruf yang membentuk satu kata dengan arti yang sangat bagus, "Sari" yang berarti bunga. Dalam keseharian ia tidak dipanggil "sari", tapi di tulisan ini izinkanlah aku menyebutnya "Sari".

Adakah di dunia ini orang yang tidak menyukai bunga? Barangkali hampir semua orang menyukai bunga. Pun orang yang alergi terhadap serbuk sari, bisa jadi mereka pada dasarnya tidak membenci bunga. Mungkin tersebab oleh alergi itulah mereka akhirnya tidak mau dekat-dekat dengan bunga tertentu.

Sebagaimana bunga pada umumnya, ia adalah sosok yang kehadirannya selalu menerbitkan keceriaan bagi orang-orang di sekitarnya. Ia ramah, murah senyum dan suka mengajak orang untuk bercanda. Setiap ia ada, suasana yang kaku pun bisa tercairkan. Namun, siapa sangka bahwa ia pernah mengalami kegetiran hidup yang begitu hebat di masa lalunya?

Saat Sari duduk di kelas 2 SMP, Allah memanggil ibundanya untuk berpulang ke haribaan-Nya. Ini membekaskan kesedihan yang luar biasa di masa belianya. Pasca itu, hari-harinya lebih banyak ia gunakan untuk belajar dan belajar. Wajahnya selalu terlihat murung dan kaku sehingga teman-temannya enggan bergaul dengannya. Ia semakin murung setelah ayahnya menikah lagi dengan wanita yang sifatnya sangat berbeda dengan almarhumah ibundanya. Ia merasa tidak nyaman berada di rumah. Sesekali terjadi pertengkaran kecil dengan ayahnya. Ini berlangsung terus hingga ia lulus dari SMA terbaik di kotanya.

Lulus SMA, ia diterima di sebuah universitas negeri favorit di Kota Pahlawan. Itu adalah titik balik kehidupan barunya. Tinggal jauh dari orang tua membuat ia menemukan kembali siapa dirinya. Perlahan ia kembali ceria. Semangat hidupnya kembali menyala. Skala pertemanannya pun semakin meluas. 

Ia lulus kuliah dengan predikat cummlaude. Ia lalu bekerja di sebuah perusahaan swasta bonafit di Surabaya. Namun, itu ternyata belum membuat puas ayahandanya. Sang ayah menginginkan putrinya ini bekerja di BUMN atau menjadi PNS. Berbagai rangkaian tes masuk BUMN dan CPNS ia coba. Pertama kali mencoba, gagal. Mencoba lagi, gagal di tahap sekian. Mencoba yang lain lagi, diminta untuk membayar uang pelicin sekian puluh juta, ia menolak. Mencoba yang lain lagi, gagal lagi. Demikian seterusnya entah hingga bilangan ke berapa.

Saat ia menghadapi kegagalan demi kegagalan itu, saat ia nyaris putus asa, datanglah seorang pria pintar dan baik hati melamarnya, mengajaknya untuk menikah. Ia bimbang. Satu sisi ia belum memenuhi keinginan keluarga besarnya untuk menjadi pegawai BUMN atau PNS, tapi di sisi lain ia tak mau menolak pria itu. Akhirnya, bismillah, ia mantap untuk berumah tangga. Untungnya, keluarga besarnya pun mengizinkan. Ia tinggalkan pekerjaannya di Surabaya kemudian menikah dan hijrah ke Ibukota, tempat tinggal suaminya.

Rupanya memang benar janji Allah bahwa Ia akan membukakan pintu-pintu rezeki bagi siapa yang berani menggenap. Beberapa bulan setelah mencicipi Ibukota, Sari diterima di sebuah universitas negeri untuk melanjutkan jenjang pendidikannya. Beberapa bulan berikutnya, ia lolos pada seleksi penerimaan CPNS di sebuah kantor pemerintahan di Jakarta. Ini adalah kebahagiaan yang luar biasa bagi Sari dan tentu saja juga bagi keluarga besarnya.

Saat ini Sari sudah dikaruniai seorang putra yang sangat sehat, cerdas dan tidak rewel. Sama seperti dirinya, putra sulungnya ini begitu murah senyum. Ibu mertuanya sangat bahagia dengan kelahiran cucu pertamanya ini. Terlebih saat beliau tau golongan darah cucunya itu, "Alhamdulillah golongan darahnya O, bisa agak slow nanti anaknya." Beliau berharap sang cucu bisa  mencairkan suasana keluarganya yang semuanya bergolongan darah A sejati: perfeksionis dan serius.

Sari terlihat sangat bahagia walaupun sebenarnya tetap ada kerikil-kericil kecil yang manghalau perjalanan hidupnya. Doaku untukmu, Sari, semoga kamu selalu bahagia dan membahagiakan orang-orang di sekitarmu. 


sumber gambar : pernikdunia.com

Selasa, 24 November 2015

Hadapi Saja!

"Aku akan mencarinya. Ku dengar dia tinggal di Ambon sekarang, bersama keluarga barunya."

Riana* mengawali ceritanya siang itu. Dia nampak yakin walaupun tetap saja gurat kegundahan tergambar di wajahnya. 

"Ya, sebaiknya memang begitu. Bagaimanapun, dia tetap ayah kandungmu. Dialah yang paling berhak menikahkanmu", pelan-pelan aku menimpali.

"Tapi aku belum sepenuhnya ikhlas. Bagaimana bisa orang yang tak pernah ku kenal, tak membesarkanku tiba-tiba harus menjadi orang terpenting di hari pernikahanku?" matanya mulai berkaca-kaca.

Hening. Aku diam, menantikan kata-kata selanjutnya yang akan dia ucapkan.

"Bagaimana juga dengan mamaku? Mama pasti tidak akan mau jika dia --orang yang sudah menggoreskan luka di hati mama-- yang menjadi wali nikahku. Bagaimana juga dengan perasaan bapakku yang sekarang? Aku, anak yang telah dibesarkanya sebagaimana anak kandungnya sendiri, menikah di bawah kewalian mantan suami istrinya."

"Mama mau aku memakai wali hakim", ia lalu diam, menantikan responku.

Aku diam sejenak, memilih kata-kata yang tepat. "Wali pertama memang ayah kandung. Jika tidak ada, hak perwalian baru turun ke paman dari pihak ayah. Ini masalah hukum. Sebaiknya kita bertanya pada ustad yang lebih paham tentang ini." Aku kemudian menuliskan link dari situs Yutube berisi kajian Ustad Khalid Basalamah yang membahas perkara nikah.

"Kajian Kitab Bulughulmaram Hadits ke 996 Bab Nikah." Ku sodorkan catatan itu padanya.  

"Coba dari sekarang sering-sering diskusi dengan Mama tentang masalah ini. Yakinkan agar beliau ridho kamu nikah di bawah perwalian ayah kandungmu. Jelaskan sepelan dan selembut mungkin. Juga pada ayahmu yang sekarang, jelaskan bahwa ini semua tidak akan mengurangi rasa hormat dan sayangmu pada beliau. Atau bisa juga begini, setelah kamu bertemu dengan ayah kandungmu, mintalah izin agar dia ikhlas kamu menikah dengan wali hakim demi menjaga perasaan mama dan ayahmu yang sekarang. Tapi pendapatku ini sangat subyektif"

"Tapi aku tetap takut. Bagaimana jika ini akan menyulut masalah baru? Aku pun sebenarnya masih ragu untuk mencari bapak kandungku ke Ambon. Ya, kalau dia mempermudah pernikahanku, kalau justru mempersulit, bagaimana? Belum lagi dengan respon keluarga besar mamaku dan keluarga besar bapak kandungku. Aku benar-benar takut konflik lama akan bangkit kembali".

Aku mencoba memahami ketakutan-ketakutannya itu. "Tugas kita berikhtiar semampu kita. Wajar kita takut pada hal-hal buruk yang mungkin akan terjadi. Tapi,  bukankah Allah selalu menyelipkan hal baik terhadap setiap hal buruk yang menimpa kita? Kita harus mengharapkan yang terbaik sembari menyiapkan hati untuk menghadapi hal yang terburuk yang mungkin akan terjadi. Ya, kita hanya perlu menghadapinya."

Kami sama-sama diam beberapa detik. "Berarti, hadapi saja ya?", retoris ia bertanya padaku. "Ya, hadapi!", aku mengangguk sembari tersenyum padanya.


sumber gambar : ellyswartz.com


*Nama sebenarnya tapi bukan nama panggilannya sehari-hari.

Senin, 16 November 2015

Naik Pesawat

Salah satu mimpi masa kecil saya adalah bisa naik pesawat terbang. Ketika ada pesawat yang suaranya terdengar cukup keras, cepat-cepat saya keluar rumah dan menengok ke angkasa. Mata dan telinga saya seolah bersinergi mencari sumber suara tersebut. Saya pun girang bukan kepalang ketika mendapati pesawat tersebut terlihat lebih besar daripada yang saya lihat pada hari-hari lainnya. Jika sedang sangat bersemangat, saya bahkan melambaikan tangan seraya berteriak, "Halo Pilot!", berulang-ulang. #norakmodeon.

Adalah hal yang nyaris mustahil bagi anak desa seperti saya ini bisa naik pesawat. Bisa makan tiga kali sehari saja sudah alhamdulillah, kok jauh-jauh membayangkan berpergian naik pesawat. Walaupun begitu, impian saya untuk bisa naik pesawat tidak pernah pupus. Ketika usia saya semakin bertambah, nyatanya saya tetap takjub tiap kali ada pesawat yang terbang cukup rendah melintasi angkasa. Suatu hari nanti saya pasti bisa naik pesawat, gumam saya sembari menerawang jauh mengikuti laju pesawat itu.

Saat saya kelas XI SMA, saya lolos ke babak final tingkat nasional lomba pidato anti-korupsi yang diselenggarakan oleh KPK. Tentu saya senang menerima kabar ini. Namun, ada satu hal yang membuat saya lebih senang, saya membayangkan pergi ke Jakarta dengan naik pesawat. Saya sudah yakin betul bahwa panitia akan menyediakan tiket pesawat PP untuk para finalis berlaga di Jakarta. Namun, ternyata tidak! Kata guru saya yang mengurus perjalanan saya ini, panitia hanya bisa menyediakan tiket kereta api eksekutif untuk finalis yang berasal dari Pulau Jawa karena keterbatasan anggaran. Runtuh sudah imajinasi tentang pesawat ke Jakarta itu.

Empat tahun setelah kejadian itu, saat saya kuliah semester VI,  saya mengikuti lomba pidato Bahasa Jepang tingkat DIY dan Jawa Tengah. Tak disangka, saya menang sehingga berhak maju ke babak final di Jakarta. Sebagai penyelenggara, The Japan Foundation meyiapkan tiket pesawat PP untuk saya ke Jakarta. Tak tanggung-tanggung, Pesawat Garuda! Bukan main bahagianya saya kala itu. Pertama kalinya naik pesawat, langsung Garuda!

Tak lama setelah itu, nasib baik sepertinya berpihak pada saya. Berturut-turut saya memenangkan lomba. Pekerjaan saya pun semakin lancar. Pundi-pundi tabungan saya mulai terisi.

Menjelang akhir tahun 2010, saya dan teman-teman saya yang tergabung dalam kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) menginisiasi sebuah komunitas, Book For Mountain namanya. Kami mengunjungi daerah-daerah pelosok di Indonesia untuk memotivasi anak-anak agar gemar membaca dan berani meraih cita-cita. Dengan tabungan pribadi, saya bisa mengikuti semua project yang kami rencanakan. Dan tentu saja, beberapa lokasi project itu berada di tempat yang jauh sehingga harus kami tuju dengan pesawat. Lama-lama, naik pesawat adalah hal yang biasa bagi saya.

Dulu ketika saya kecil, saya membayangkan semua kenyamanan yang akan saya raih di masa depan, termasuk berpergian dengan naik pesawat, sepenuhnya hanya demi saya pribadi. Ibarat sebuah sebuah Diagram Venn, himpunan mimpi saya itu sama sekali tidak ada irisannya dengan himpunan lain. Akan tetapi, semua itu perlahan berubah karena banyak faktor: keluarga, pertemanan, buku-buku bacaan dan lingkungan lainnya. Faktor-faktor itu serupa puzzle yang satu persatu tersusun membentuk gambar pemahaman yang utuh.

Saya mulai paham bahwa semua kenyamanan yang saya dapatkan tidak akan ada nilainya di mata Allah jika tidak dibagikan kepada sesama. Saya mulai mengerti bahwa kebahagian yang sesungguhnya itu bisa kita raih jika kita mau berbagi. Seperti kata Sayyid Quthb, "Ketika hidup ini hanya untuk diri sendiri, maka ia akan terasa sangat singkat dan tak bermakna. Tapi, ketika hidup ini kita persembahkan untuk orang lain, ia akan terasa panjang, dalam dan penuh makna."

Dan ternyata, jika kita niatkan hidup kita untuk orang lain, beban hidup rasanya semakin ringan. Segala penat, lelah dan sedih rasanya berkurang beberapa derajat ketika kita mengingat untuk siapa semua pengorbanan ini kita berikan. Mengutip kata-kata Pak Anis Baswedan saat pelatihan Pengajar Muda Angkatan IV, "Ingatlah, apa yang kita kerjakan ini bukan tentang kita, tapi tentang mereka (anak-anak Indonesia). It's not about me, but about them!" Ah kawan, semoga Allah selalu memberikan sinyal hidayah-Nya pada kita agar istiqomah menciptakan arti untuk orang-orang sekitar.


sumber : dearryk.com

Minggu, 15 November 2015

Sekali Lagi, Islamofobia

Tahun ini, 2015, dibuka dengan berita serangan pada kantor redaksi majalah satire Perancis, Charlie Hebdo. Bisa ditebak, kepolisian Perancis menyatakan bahwa pelaku serangan tersebut adalah sekelompok muslim, bagian dari jaringan Al-Qaeda katanya. Sejak peristiwa itu, gelombang Islamofobia di negara-negara barat makin menguat. 

Masih segar ingatan kita pada peristiwa tersebut, kita kembali dikejutkan dengan berita senada yang juga terjadi di Perancis. Kali ini, korbannya semakin banyak. Lebih dari 100 orang tewas dalam serangan yang lagi-lagi menurut otoritas keamanan setempat dilakukan oleh sekelompok muslim tertentu. Laman BBC Indonesia menyebutkan bahwa, "Penyelidik Prancis sudah mengungkap identitas seorang penyerang yang menewaskan 129 orang di Paris. Nama warga negara Prancis Omar Ismail Mostefai disebut oleh media lokal dan parlemen Prancis."

Media sosial seketika dipenuhi dengan ungkapan simpati pada peristiwa tersebut. Dan muslim pun seolah sedang dipojokkan atas peristiwa tersebut sehingga sebagian merasa perlu ikut bersalah. 

Ada sebuah ironi di sini. Ketika Palestina bertubi-tubi diserang oleh Israel dan kawanannya, mengapa warga dunia seolah tutup mata dan tak bereaksi apa-apa? Ketika dalam waktu yang hampir bersamaan dengan serangan Paris, terjadi pula serangan mematikan di Beirut, mengapa mata dunia seolah hanya tertuju pada Paris? 

Media massa pun tidak berimbang memberitakan semua itu. Jika yang menjadi korban adalah barat, sepertinya sah-sah saja menjadikan muslim sebagai satu-satunya tersangka. Media kompak melabelkan muslim sebagai teroris. Sementara itu, Amerika Serikat yang jelas-jelas menyerang Iraq dan Afganiskan sehingga menewaskan puluhan ribu jiwa, tak pernah dilabeli sebagai teroris! Yang terjadi justru sebaliknya, "Amerika adalah pembasmi teroris." Dan anehnya, dunia sepakat dengan label itu.

Kita (muslim) tanpa sadar kadung ikut menerima pandangan itu. Semua pemberitaan yang memojokkan Islam kita telan mentah-mentah. Padahal, jika kita mau berfikir sedikit saja, banyak kejanggalan yang ada pada berita-berita yang dirilis oleh media massa. Seperti yang kita baca pada laman BBC Indonesia berikut ini. 



Dikatakan bahwa, "Sebuah paspor Suriah, ditemukan dekat jasad seorang pelaku penyerangan di Stade de France, dipakai untuk melewati Pulau Leros, Yunani, bulan lalu, kata pejabat Yunani". Bukankah ini aneh? Di belahan bumi manapun, pelaku kejahatan selalu sebisa mungkin menghapus jejak mereka agar meraka atau kelompok mereka tidak tertangkap. Jika benar pria Suriah ini adalah salah satu pelaku serangan tersebut, apakah mungkin ia sengaja membawa paspornya saat aksi itu ia lakukan? Dan lagi, mengapa paspor tersebut bisa tetap utuh sementara jasad semua yang dinyatakan sebagai pelaku itu sudah hancur berkeping-keping? Benar-benar sebuah lelucon yang menggelikan!

Episode penyulutan Islamofobia mungkin belum akan berhenti pada aksi Perancis kali ini. Sebagai orang awam, kita mungkin tidak akan benar-benar tau siapa sesungguhnya sutradara dari semua aksi semacam itu. Tapi, setidaknya kita perlu selektif menyaring berbagai berita yang menyudutkan Islam. Dan sepertinya, kita pun perlu punya keberanian untuk menjawab tuduhan-tuduhan yang menyudutkan agama kita (Islam).

Jumat, 13 November 2015

Selubung Tak Tembus Pandang

“Nah, itu Universitas Indonesia!”, kata saya pada anak-anak saat kereta Commuter Line (CL) yang kami tumpangi melintasi salah satu kampus terbaik di tanah air itu. “Dulu, Ibu Mutia dan Ibu Riri kuliah di UI”, saya menambahkan dengan lebih antusias.

Hari itu, kami Alumni Pengajar Muda Kabupaten Bima dan para relawan sedang mengadakan kegiatan Tur Kota Tua dengan anak-anak Bima yang mendapat kesempatan belajar di SMP-SMA Smart Ekeselensia Dompet Dhuafa dan Insan Cendikia Madani. Itu adalah perjalanan pertama anak-anak dengan CL. Mereka terlihat sangat bersemangat. Mereka mengamati setiap detail yang mereka jumpai di sepanjang perjalanan dari Bogor sampai ke Kota Tua itu. Saya pun mendadak berubah macam pemandu wisata yang menerangkan banyak hal kepada peserta tur.

“Gedung yang bentuknya seperti batu itu adalah perpustakaannya”, saya melanjutkan. Iman, siswa kelas VIII tiba-tiba bertanya kepada saya, “Kalau utadzah, dulu kuliah dimana?”. Saya bingung, ustadzah siapa? Saya tidak mengenal seorang pun ustadzah di sekolah mereka. Saya hanya mengenal beberapa ustad wali asrama mereka. Jadi, ustadzah mana yang Imam maksud?, saya berfikir beberapa detik.”Ustadzah siapa?”, saya bertanya untuk mengurai maksud Imam. “Ustadzah!”, jawab Imam sambil menunjuk saya. Seketika itu saya kaget dan Riri yang berdiri tepat di samping saya pun kaget sehingga kami secara reflek saling berpandangan. Hening. “Yang Imam maksud itu mungkin Kak Dita”, kata Riri sambil menahan tawa.

Pandangan saya beralih ke Imam. Saya menjadi salah tingkah. Tak sanggup saya membahasakan diri saya sebagai ustadzah. Panggilan itu terlalu berat untuk saya yang masih sepayah ini. “Oh, Ibu Dita maksudnya?”, pertanyaan itu saya lontarkan sambil mengarahkan ujung jari telunjuk ke batang hidung saya. Imam mengangguk, “Iya.” Saya yang masih agak syok dengan panggilan yang Imam berikan pada saya itu, mulai menguasai situasi. “Kalau Ibu Dita dulu kuliahnya di UGM, Imam. Sama seperti Ibu Diah.”

Dalam hati saya bertanya-tanya, kenapa Imam memanggil saya dengan sebutan ustadzah? Apakah dia mengira saya adalah salah satu ustadzah di sekolahnya sekarang? Dulu ketika di Bima Imam memang bukan berasal dari sekolah yang saya ajar sehingga bisa jadi ia kurang familiar dengan saya. Tapi, selama 1,5 ia bersekolah di Smart Ekselensia, tak kurang lima kali saya sudah menjenguknya dan mengajaknya jalan-jalan. Masakah Imam tidak mengingat saya?

“Oo.. soalnya kamu itu pantes jadi ustadzah, Dit!” terang Kak Mutia saat saya meceritakan apa yang baru saja saya alami itu. Kejadian itu terus terngiang-ngiang di benak saya. Barangkali Imam memanggil saya “ustadzah” karena melihat penampilan saya, saya berkesimpulan demikian.

Kadang, apa yang nampak dari luar itu dijadikan kesimpulan untuk menilai dalamnya seseorang. Padahal, tidak selamanya yang di luar itu paralel dengan yang di dalam. Dengan melihat penampilan kita atau cara kita bertutur, orang-orang mungkin akan memberikan penghargaan lebih pada kita. Di balik itu semua, barangkali banyak sikap kita yang senyatanya belum sesuai dengan penghargaan orang lain pada kita. Dalam situasi seperti itu, barangkali Allah sedang menutup aib kita, cela kita. Allah sedang mendekap kita dalam selubung yang tak tembus pandang.

Apa jadinya jika semua aib kita ini Allah izinkan tersingkap dan nampak jelas di depan banyak orang? Tentu kita perlu bersyukur selama Allah masih berkehendak menutupi aib kita sehingga yang nampak dari kita adalah yang baik-baik. Jika Allah saja mau menutup aib kita, tapi kenapa kita terkadang justru mengumbar aib saudara-saudara kita?

Tidak ada manusia yang bersih dari dosa dan cela. Usahlah kita mencari-cari aib dan mempergunjingkannya. Karena seburuk-buruknya akhlak seseorang, masih banyak hal yang kita pelajari dari mereka. Pun apa yang kita lihat buruk dalam takaran kita itu bisa jadi bernilai baik dalam takaran Allah.


Imam