Translate

Selasa, 23 Desember 2014

Happy Mother's Day

It's December 22, Mother Day! Let me sing this song, ya! :-)

"My first, my last, my everything
And the answer to all my dream
You're my sun, my moon, my guiding star
My kind of wonderfull, that's what you are".

Bagi saya, itu adalah salah satu lagu terbaik untuk menggambarkan tentang ibu saya. Beliau adalah segalanya bagi saya. Hmm, sulit sekali melanjutkan tulisan ini. Hati saya tiba-tiba terasa penuh, susah sekali menguaraikannya. Tapi, baiklah. Saya coba perlahan.

Ibu saya adalah anak ke-6 dari 9 bersaudara. Namanya cukup aneh, Tri Saktini. Semua orang mengira bahwa Ibu saya adalah anak ke-3. Tapi Ibu selalu menerangkan bahwa memang benar Beliau anak ke-3, tepatnya ke-3 dari bawah. :-)

Menurut cerita dari kakek saya, Ibu lahir tepat 10 hari setelah peristiwa G30 S PKI. Waktu itu suasana kampung kami masih mencekam. Bahkan, kakak tertua Ibu yang saat itu berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar ikut ditangkap oleh pemerintah karena diduga tersangkut dengan LEKRA. Tepat tanggal 10 Oktober diadakanlah sebuah pertunjukan ketoprak di daerah kami oleh orang-orang pendukung Ideologi Pancasila. Ketoprak itu diberi judul "Tri Sakti". Di hari itulah ibu lahir. Maka, kakek memberi nama Ibu dengan nama "Tri Saktini". Akhiran -ni ditambahkan untuk menegaskan bahwa anaknya yang baru lahir itu berjenis kelamin perempuan. (Di masyarakat Jawa, anak perempuan lazimnya diberi-nama dengan akhiran bunyi -ni, misalnya Partini, Sutrisni, Pujiyani, dll).

Ibu mempunyai hari kelahiran yang sama dengan kakek, yaitu Sabtu Kliwon. Sejak saat itu, kakek berfirasat bahwa kelak Ibulah yang akan merawat kakek sampai kakek wafat. Benar saja, Ibu tumbuh menjadi orang yang pandai mengemong sesepuh. Sejak usia sekolah dasar Ibu sudah merawat kakek dan neneknya dari pihak ayah (berarti kakek dan nenek buyut saya). Ibu sayalah yang dengan sabar membersamai sampai beliau berdua tutup usia. Bahkan, menurut cerita Ibu, neneknya (berarti nenek buyut saya) meninggal saat Ibu tidur di sampingnya. Saat itu Ibu sudah masuk SMA. Saat bangun pagi-pagi, neneknya tidak bisa dibangukan. Ibu kemudian memanggil ayahnya dan setelah itu baru tahu bahwa neneknya sudah meninggal kemungkinan sejak dini hari.

Setelah menikah dan melahirkan saya, Ibu tetap tinggal di kampung halamannya, membesarkan saya sembari merawat ayah dan ibunya. Sampai akhirnya, ayah dan ibunya pun berpulang dalam perawatan Ibu.

Sekarang, saat ayah dan ibunya sudah tiada, Ibu masih selalu baik dengan adik-adik dan saudara ayah-ibunya. Sesekali Ibu mendatangi mereka yang sudah lanjut usia itu dan memberikan makanan. Jika di rumah kami sedang masak yang agak istimewa, Ibu selalu tidak lupa mengantar sebagian masakan itu untuk mereka. Begitulah ibu, sifat dermawan dan kasih sayangnya kepada sesepuh memang tiada duanya.

Sampai di sini, saya kembali bingung mau menulis apalagi tentang Ibu. Bukan karena tak ada cerita yang bisa ditulis, melainkan terlalu banyak sehingga saya kebingunan  untuk menulis yang mana terlebih dahulu.

(Berhenti sejenak).

Oh baiklah, saya lanjutkan. Ibu saya juga tergolong orang yang sangat kuat. Seorang diri Beliau membesarkan saya setelah perceraian dengan ayah saya. Seumur-umur saya baru 2 kali melihat Ibu menangis karena sedih. Di depan saya, Ibu selalu tampak tegar dan selalu berusaha membuat lelocon yang kadang tidak saya pahami. Saya pun sering tertawa bukan karena lelucon Ibu yang lucu melainkan tertawa menertawakan ketidakpahaman saya.

Sesekali kami kadang berselisih pendapat dan kadang membuat kami marah. Ibu yang memiliki watak yang sedikit keras kepala kadang tidak mau menerima apa yang saya katakan. Begitu pun saya, sifat keras kepala saya kadang membuat saya merasa yang paling benar dan tidak bisa ditentang. Untungnya, keributan-keributan semacam ini semakin lama sudah semakin berkurang. Duh Gusti Allah, mugi-mugi Panjenengan paring manah ingkang wiyar dumateng kula kaliyan Ibu. Aamiiin.

Itu sedikit cerita tentang Ibu saya. Mungkin ibu saya adalah ibu yang tidak sempurna, banyak kekurangan di sana-sini. Akan tetapi, bukankah saya juga adalah seoarang anak yang memiliki kekurangan yang tak kalah banyaknya?







2 komentar:

Lia Wibyaninggar mengatakan...

Mbak Ditaaa, aku juga ingin menulis tentang ibu dari kemarin, tapi belum jadi2. hehe. Rasanya ingin cerita soal ibu juga, tapi takut sedih.
Ibuku membesarkanku sejak aku bayi hingga remaja juga sendirian--meskipun ayah dan ibuku tidak bercerai seperti orangtua Mbak Dita. Bapak hanya pulang sesekali dari Jakarta jika ada libur, itu pun tak lama. Bahkan, dulu aku yg masih TK harus rela diasuh nenek, karena ibu S2 di Jogja. Masa-masa S2 itu dilaluinya dengan mengandung adikku, cuti melahirkan, ngasuh bayi di kamar kosan, kadang juga kurecokin. Pernah aku sakit demam tinggi, dan membuat ibu khawatir, trus langsung pulang ke madiun menjengukku. Akhirnya ibu baru wisuda master pas aku udah kelas 3 SD. Aku nggak bisa bayangin kalo aku yg mengalami itu semua. Kuat nggak ya? Haha. Tugas banyak aja ngeluhnya udah minta ampun.
Well, aku merasa kalah dengan ibu hampir dalam segala hal. Ibu pinter masak, aku enggak. Ibu bisa nyetir, aku belum bisa. Aku bisa menjahit, aku nggak bisa. Haha. Semakin meyakini bahwa ibu sungguh-sungguh perempuan super. Cuma satu yang nggak usah kucontoh dari kisah ortu: nanti kalau bisa, jangan LDR kalo sudah menikah. ehehe

Well, kesimpulannya, semua ibu di dunia ini LUAR BIASA. :D

Metias Kurnia Dita mengatakan...

Yap bener banget dek. Kalau ngomongin ttg Ibu pasti gak ada habisnya. Semoga Allah senantiasa menyayangi ibu kita ya dek. Selalu diberikan kesehatan lahir batin dan keselamatan dunia akhirat.