Translate

Senin, 26 Agustus 2013

Bapak

Kadang, aku merasa iri ketika dengan bangganya teman-temanku bercerita tentang ayahnya atau dengan penuh keceriaan berbicara melalui telepon dengan Ayah mereka. Ya, saat itu aku hanya bisa menelan ludah, tersenyum getir. Enak ya, punya ayah yang perhatian. Senang ya, ditelpon Ayah. Bahagia ya, ada Ayah yang bisa diajak berdiskusi saat harus mengambil keputusan. Oh... seandainya... andai saja... aku... aku.... pasti...tentu... akan..., tidak perlu dilanjutkan! Aku segera sadar dari perandaianku. Aku kembali pada kenyataan bahwa memang aku tidak pernah merasakan itu semua. Tidak pernah!

Aku tumbuh di tengah keluarga yang penuh masalah, terutama Ayah dan Ibuku. Bahkan, aku sampai lupa kapan tepatnya terakhir kali keuarga kami hidup harmonis. Ah tidak, lebih tepatnya aku selalu sengaja berusaha untuk tidak mengingatnya.


Potongan-potongan kenangan kurang baik dari masa lalu terkadang masih sesekali muncul di benakku. Benar-benar seperti hantu yang membuatku selalu ingin berteriak untuk mengusirnya. Sekuat tenaga, aku mengubur dalam-dalam semua itu. Aku tidak mau terjebak dalam kebencian. Aku mau belajar untuk bersyukur, walaupun sungguh itu bukan perkara yang mudah!


Untungnya, aku punya seorang Ibu yang luar biasa, yang bisa menjalankan peran sebagai Ibu sekaligus sebagai Ayah. Walaupun aku nyaris tidak pernah menerima kasih sayang dari seorang Ayah, cukup Ibuku  menggantikannya. She’s my everything.


Tanpa ku sadari, hidupku pun berjalan normal. Aku punya teman-teman yang penuh semangat dan saling mendukung dalam kebaikan. Prestasiku di sekolah dan kampus pun tidak terlalu mengecewakan. Dan akhirnya aku berkesimpulan bahwa tidak punya Ayah itu, tidak berarti tidak bisa maju. Tidak punya Ayah itu, tidak berarti tidak bisa bahagia. No father, no worries!


Jika hidup dijalani dengan penerimaan yang indah dan pengertian yang benar, ternyata Allah justru akan menambah nikmat itu. That’s a rule! Seperti aku saat ini. Selama menjadi Pengajar Muda, aku tinggal bersama keluarga angkat yang luar biasa. Ayah dan Ibu angkatku sangat perhatian padaku. Aku sangat terharu ketika setiap pagi Pak Taje, ayah angkatku selalu berkata,


“makan dulu, Dita”


Atau setiap malam bertanya,


 “Sudah tidur, Dita?”


Sepertinya itu hanya ungkapan-ungkapan sederhana dan biasa-biasa saja. Tapi bagiku, itu sungguh sesuatu yang sangat istimewa. Aku merasa diperhatikan, disayangi oleh Bapak, sosok yang selama ini sudah hampir terhapus dari ingatanku. Walaupun secara hubungan darah Pak Taje bukan siapa-siapa bagiku, tapi setahun ini aku benar-benar menganggap beliau adalah Bapakku. Dan beliau pun sepertinya juga demikian, sungguh-sungguh menyayangiku sebagaimana anaknya sendiri.


Setiap hari, Aku, Bapak dan Ibu angkatku selalu makan bersama. Sambil mengobrol dan sesekali diselingi humor Bapak yang khas hingga kami pun tertawa bersama-sama. Juga, saat malam kami kadang mengobrol bersama hingga larut. Bapak bercerita banyak hal, tentang masa mudanya, tentang pertemuannya dengan ibu, tentang masa-masa saat putra-putri mereka masih kecil dan bercerita tentang apa saja. Sungguh, Bapak adalah seorang pencerita yang hebat. Aku suka, suka sekali mendengarkan cerita-cerita itu walaupun beberapa kali aku sampai terkantuk-kantuk saking sudah larut malamnya.


Yang membuatku semakin trenyuh adalah, beberapa hari lalu, saat kami makan malam bersama, Bapak tiba-tiba bertanya, “Kapan Dita menikah?”


Aku kira ini pertanyaan humor seperti yang biasanya Bapak lontarkan padaku. Maka, aku pun menjawab sambil tertawa, “De, belum tau ni Bapak!”


Dan Bapak pun menimpali, “Maksudnya, nanti kalau Dita menikah, Bapak pasti ke Jawa ni. Dita kan anak Bapak juga.” Kali ini Bapak tampak serius.


Aku nyaris tersedak mendengar kata-kata Bapak itu. Benarkah yang dikatakan Bapak itu? Dita.....anak....Bapak.... juga...??? I am dreaming, aren’t I?


Ku tatap air muka Bapak yang selalu teduh itu. Dadaku sesak, mataku mulai penuh. Jika tidak segera ku kendalikan maka air mata ini akan segera tumpah begitu saja.


“Benar Bapak mau ke Jawa?” aku bertanya untuk menguatkan tanggul mataku.


“Iya ni”, jawab Bapak memastikan.


Ya Allah, betapa setahun ini aku sungguh beruntung. Hanya setahun memang, tapi setidaknya ada episode dari hidupku yang pernah kulewati bersama seorang Ayah yang menyayangiku.  Sungguh, aku bersyukur. Dan menjadi Pengajar Muda adalah perantara yang Allah berikan padaku untuk belajar bersyukur.




(Cerita ini ditulis pada Mei 2013, sebulan sebelum aku meninggalkan Bima)


           

2 komentar:

Anonim mengatakan...

ceritanya bagus banget. salam kenal :)

Metias Kurnia Dita mengatakan...

terima kasih mbak, salam kenal juga :)